DETAIL DOCUMENT
Analisis Framing seputar pemberitaan Pluralisme pasca wafatnya Gus Dur di Harian Kompas dan Jawa Pos dalam perspektif dakwah
Total View This Week0
Institusion
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
Author
Zubaidah Zubaidah (STUDENT ID : --)
Subject
Dakwah 
Datestamp
2018-07-06 03:49:02 
Abstract :
Munculnya wacana pluralisme menjadi tema menarik yang diekspos oleh media. Mengingat pesan yang disampaikan dalam teks media bersifat sentral dan objektif. Terkait perspektif dakwah, pluralisme yang dijabarkan dari Jawa Pos dan Kompas berhubungan dengan masalah akhlak sesama makhluk. Tentang kerukunan antar umat beragama, menjaga toleransi serta menghormati perbedaan umat lain dan menjalin relasi baik melalui dialog yang mempunyai visi untuk bersatu mengharumkan nama bangsa. Selanjutnya pemberitaan pluralisme yang disajikan Jawa Pos dan Kompas, akan dianalisis. Guna mengetahui penonjolan pesan yang dibingkai dari keduanya. Penelitian ini menggunakan analisis framing model Zhongdang Pan dan Kosicki. Melalui pendekatan deskripstif yang menggunakan perangkat framing sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Konstruksi pemaknaan akan terbaca sesuai ideologi Jawa Pos dan Kompas, saat memaparkan perspektif terkait fenomena pluralisme yang dikembangkan Gus Dur. Hasil pengkosntrukan berita, peneliti mendapatkan kesamaan berita berimbang. Meski pun ada sedikit perbedaan dari isi pesan yang hendak disampaikan dari kedua koran nasional ini. Jawa Pos membingkai tema pluralisme pasca wafatnya Gus Dur, memandang bahwa melalui almarhum Gus Dur yang telah memberikan pengabdian terbaik untuk kemajuan agama di Indonesia, hal ini juga berpengaruh demi mendorong perkembangan Islam. Seperti menyampaikan bahwa Islam sebagai sumber keselamatan perdamaian, keadilan, dan toleransi, menginspirasi banyak kalangan dan pemimpin agama di negeri ini dan dunia internasional. Maka, perlu adanya kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati kemajemukan yang bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan dan etnik. Begitu pun Kompas, tidak jauh berbeda dalam mengframe pluralisme sama dengan Jawa Pos. Namun, kompas lebih menyatakan pemikiran Gus Dur harus tetap dilestarikan oleh penerus generasi muda. Sebab, dikhawatirkan konsep pluralisme yang telah diterapkan di negeri ini akan dirusak oleh gerakan fundamentalisme dan radikalisme. Kompas menyampaikan pemikiran Gus Dur yang mengajarkan sekaligus mencontohkan bagaimana ber-Islam dalam konteks keindonesiaan, akan dilanjutkan oleh para pengikutnya, khususnya generasi Islam. 
Institution Info

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL