Abstract :
Dalam era globaliasi ini, sering terjangkit penyakit yang begitu mengerikan, keterasingan, kecemasan, keputusasaan, kekerasan dan krisis eksistensial. Dalam konteks inilah menjadi penting bagi kehidupan manusia untuk mulai melihat kembali sebagai bagian integral kehidupannya. Kepuasan hidup, kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan batin adalah tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Semua itu tidak bisa diselesaikan semata-mata hanya dengan pemenuhan kebutuhan material saja, tetapi lebih jauh adalah kebutuhan jiwa atau batin. Menurut pandangan Islam, aktivitas yang kita lakukan adalah tidak terpisahkan oleh sifat-sifat yang terpuji dan tercela. Keduanya merupakan sifat yang bertentangan. Jika kita mampu untuk mengendalikan emosi kita, maka sifat terpujilah yang akan kita dapat. Begitupun sebaliknya, jika kita tidak mampu untuk mengendalikan emosi kita, maka sifat tercelahlah yang akan menguasai kehidupan kita. Oleh sebab itu maka timbullah paradigma yang berhubungan dengan otak kita, yaitu kemampuan manusia untuk memanfaatkan kecerdasan emosionalnya terlebih dahulu, baru intelektual dan spiritual ? ataukah, ketiga kecerdasan itu dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.