DETAIL DOCUMENT
Pemikiran tasawuf Kiai Ihsan Jampes Kediri perspektif sosiologi pengetahuan
Total View This Week0
Institusion
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
Author
Wasid Wasid (STUDENT ID : --)
Subject
Tasawuf 
Datestamp
2018-03-19 04:57:32 
Abstract :
Disertasi ini mengangkat Pemikiran Tasawuf Kiai Ihsan Pondok Pesantren Jampes Kediri, salah satu ulama pesantren yang memiliki reputasi internasional. Untuk itu, keberadaannya berusaha menjawab permasalahan sebagai berikut; Bagaimanakah pengertian tasawuf dalam perspektif kiai Ihsan Jampes?, (2) Bagaimana metodologi kiai Ihsan dalam memahami konsep-konsep tasawuf?, dan (3) Bagaimana posisi pemikiran tasawuf kiai Ihsan dalam lingkup dunia Pesantren dan dunia Islam pada umumnya?. Sebagai bagian dari penelitian kualitatif, penulis menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan sebagai cara pandang dalam memahami pemikiran tasawuf kiai Ihsan Jampes dan posisinya dalam altar pemikiran Islam, khususnya dalam kajian tasawuf. Untuk itu, maka metode historis kritis dan hermeneutik model George Gadamer digunakan dalam menganalisa konteks kesejarahan, teks-teks lain dan relasinya yang berhubungan dengan pemikiran tasawuf kiai Ihsan. Temuan penulis disimpulkan sebagai berikut; (1) kiai Ihsan berpandangan bahwa tasawuf diartikan sebagai ilmu yang dapat mengetahui hal ikhwal dan sifat-sifat jiwa, baik sifat buruk ataupun sifat terpuji, misalnya membahas tentang muraqabah, zuhud, fana?, baqa? dan lain-lain. Sementara tujuannya adalah sebagai sarana membersihkan hati dari selain Allah (al-aghyar) dan menghiasinya dengan penyaksiaan langsung kepada dzat sang Maha Raja dan Maha Pengampun, yakni ma?rifat Allah (2). Terdapat tiga aspek metodologis yang dipandang mampu melahirkan pemikiran tasawuf kiai Ihsan, yakni aspek epistemologis, aspek historis-sosiologis, dan aspek ideologis. Semua aspek itu nampak dari proses perjalanan intelektual kiai Ihsan yang berkembang dalam kultur dan tradisi kepesantrenan. Darinya, kiai Ihsan bersinggungan langsung dengan tasawuf sunni ala imam al-Ghazali melalui beberapa kitab kuning yang dikaji dan diajarkan di lingkungan pesantren dengan ideologi Sunni yang diyakini sebagai kebenaran. Sementara itu, (3) Posisi kiai Ihsan adalah penganut tasawuf sunni ala al-Ghazali sebagaimana dilakukan oleh komunitas pesantren pada umumnya. Tapi, sebagai penafsir ulung atas pemikiran tasawuf al-Ghazali ? setidaknya melalui kitab Siraj al-Talibin?kecenderung kiai Ihsan sebagai pembela al-Ghazali cukup nampak dan kuat laiknya posisi ibn ?Arabi dalam membela filsafat. Ketegasannya, bisa dilihat ketika kiai Ihsan menolak persepsi salafi-wahhabi (misalnya, ibn Qayyim) yang menuduh pikiran al-Ghazali sebagai bentuk kebodohan, bahkan sebagai kesesatan. Inilah yang kemudian, posisi kiai Ihsan berbeda dengan beberapa penafsir al-Ghazali lainnya, seperti Zakki Mubarak, Ebrahim Moosa, Sulaiman al-Dunya hingga ?Amin Abdullah yang mengkritik al-Ghazali secara ?pedas. dengan gaya ilmiahnya melalui perbandingan al-Ghazali dengan pemikir Barat Imanuel Kant. Alasannya, tasawuf itu bersifat intuitif-subyektif sehingga mengandalkan pengalaman pelakunya, termasuk dialami oleh imam al-Ghazali. Secara teoritik, disertasi ini menghadirkan temuan teori cultural Sufism, yakni bahwa tasawuf bukan saja berkaitan dengan praktik-praktik sufistik dalam rangka menggapai kebenaran hakiki (ma?rifat Allah), tapi sekaligus strategi kebudayaan dalam menebarkan kedamaian kepada sesama sebagaimana juga dilakukan oleh Wali Songo 
Institution Info

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL