Abstract :
Agar proses pembelajaran matematika lebih efektif, guru seharusnya menggunakan komunikasi dua arah sehingga siswa lebih responsif dalam mengemukakan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Hal ini disebabkan, proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, dimana guru berperan sebagai pengantar pesan dan siswa sebagai penerima pesan. Pesan yang disampaikan berupa isi materi pelajaran yang dituangkan kedalam simbol-simbol komunikasi baik verbal maupun non verbal. Agar pesan yang disampaikan guru tepat sasaran dan mencapai hasil optimal, ada beberapa komponen atau unsur-unsur penting dalam proses komunikasi yang harus diperhatikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses komunikasi, jenis kelamin akan menjadi fokus dalam penelitian ini, karena jenis kelamin seorang guru menjadi faktor utama menentukan minat siswa dalam menerima pelajaran atau materi yang disampaikan. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui gaya yang dipakai guru matematika laki-laki dan perempuan, serta respon siswa terhadap cara berkomunikasinya guru matematika dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan metode observasi dan wawancara. subjek penelitian ini adalah guru matematika laki-laki dan perempuan SMP/MTs dan siswa. Analisis data menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil penelitian, tiga guru matematika laki-laki memakai gaya komunikasi maskulin, komunikasinya sesuai dengan teori akomodasi divergensi, dan memakai gaya komunikasi campuran yaitu the controling style dan the equalitarian style, tiga guru matematika perempuan memakai gaya komunikasi feminim, komunikasinya sesuai dengan teori akomodasi divergensi dan memakai gaya komunikasi campuran yaitu the controling style dan the equalitarian style. Dari 25 siswa, 64% siswa menyukai cara berkomunikasi guru perempuan dan 24% siswa menyukai cara berkomunikasi guru laki-laki dan 12% siswa menyukai kedua-duanya.