Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Female Genital Mutilation (FGM)
Dalam Budaya Masyarakat (Studi pada Masyarakat Etnis Semendo di Desa
Sukananti, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat). Permasalahan
dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana latar belakang khitan perempuan (2)
bagaimana kepatuhan tenaga medis dan masyarakat terkait peraturan pelarangan
khitan perempuan (3) faktor-faktor masih dipertahankannya tradisi khitan
perempuan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan naratif. Informan penelitian adalah dukun khitan perempuan, bidan
desa, ibu yang memiliki anak perempuan yang sudah dikhitan, masyarakat, dan
tokoh agama. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif terdiri atas
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari
hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Latar
belakang khitan perempuan adalah adanya keyakinan bahwa khitan perempuan
adalah bagian ajaran agama yang harus dipatuhi, khitan perempuan adalah tradisi
leluhur yang harus dilestarikan, dan adanya kepercayaan bahwa organ perempuan
menyimpan najis dan kotoran. (2) Kepatuhan tenaga medis terkait peraturan
pelarangan khitan perempuan yaitu mengetahui adanya pelarangan tersebut tetapi
tetap akan melaksanakan khitan perempuan. (3) Faktor-faktor penyebab
bertahannya khitan perempuan yaitu adanya faktor fungsional khitan perempuan
(kesehatan, agama, dan sosial), faktor kesakralan khitan perempuan, dan faktor
kewajiban sosial.
Kata Kunci : Kebudayaan, Khitan Perempuan, Tradisi turun-temurun
This study aims to determine Female Genital Mutilation (FGM) in Community
Culture (Study of the Semendo Ethnic Community in Sukananti Village, Way
Tenong District, West Lampung Regency). The problems in this study are (1)
what is the background of female circumcision (2) how is the awareness of
medical personnel and the community regarding the regulations prohibiting
female circumcision (3) the factors that are still maintaining the tradition of
female circumcision. The method used is a qualitative research method with a
narrative approach. Research informants were female circumcised dukuns, village
midwives, mothers with circumcised daughters, community members, and
religious leaders. Collecting data using observation, interviews, and
documentation. Data analysis using qualitative data analysis consists of data
collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. From the
results of the research and discussion, the following conclusions can be drawn: (1)
The background of female circumcision is the belief that female circumcision is
part of religious teachings that must be obeyed, female circumcision is an
ancestral tradition that must be preserved, and the belief that female organs store
unclean and dirt. (2) Awareness of medical personnel related to regulations
prohibiting female circumcision, namely knowing the existence of the prohibition
but will still carry out female circumcision. (3) The factors that cause the
persistence of female circumcision are the functional factors of female
circumcision (health, religion, and social), factors of the sacredness of female
circumcision, and factors of social obligation.
Keywords: Culture, Female Circumcision, Hereditary Tradition