Abstract :
Fungi mikoriza arbuskular (FMA) adalah tipe fungi yang berasal dari golongan
endomikoriza. Fungi ini memiliki kemampuan untuk bersimbiosis dengan hampir
90% jenis tanaman spesies tingkat tinggi yang tumbuh pada berbagai tipe habitat
dan iklim. Populasi dan keragaman FMA di alam sangat beragam,
keberagamannya dipengaruhi oleh faktor biotik (jenis tanaman, FMA, dan
mikroorganisme lain) dan faktor abiotik (pH tanah, kadar air tanah, bahan organik
tanah, suhu, intensitas cahaya, dan ketersediaan hara, logam berat maupun
fungisida). Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus merupakan salah
satu sentra produksi lada di Lampung. Lada di daerah tersebut ditanam secara
monokultur dan polikultur yang dapat menyebabkan perbedaan antara faktor
biotik dan abiotik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perbedaan
populasi FMA pada rizosfir lada yang ditanam secara monokultur dan polikultur
(2) mengetahui perbedaan keragaman FMA pada rizosfir lada yang ditanam
secara monokultur dan polikultur dan (3) mengetahui jenis FMA yang dominan
pada rizosfir lada yang ditanam secara monokultur dan polikultur. Penelitian ini
dilaksanakan di Rumah Kaca dan Laboratorium Produksi Perkebunan Fakultas
Pertanian Universitas Lampung mulai Oktober 2022 sampai Februari 2023.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua tahap, pada tahap pertama
yaitu pengambilan sampel tanah dari kebun lada monokultur, lada tumpang sari
kopi, dan lada tumpang sari kakao di Kecamatan Air Naningan, Kabupaten
Tanggamus. Data populasi FMA dengan Teknik penyaringan basah yang
diperoleh diuji dengan uji One way Annova untuk mengetahui apakah ada
perbedaan yang signifikan antara data populasi. Tahap yang kedua yaitu kultur
traping. Rancangan perlakuan yang digunakan dalam kultur traping adalah
rancangan faktorial (3x3) dengan faktor pertama yaitu asal sampel tanah (K)
dengan k1 (lada monokultur), k2 (lada tumpang sari dengan kopi), dan k3 (lada
tumpang sari dengan kakao) dan faktor kedua yaitu jenis tanaman inang (T) t1
(jagung), t2 (sorgum), t3 (Pueraria javanica) dengan setiap perlakuan diulang
sebanyak 5 kali. Perlakuan diterapkan pada satuan percobaan menggunakan
rancangan acak lengkap (RAL). Data populasi spora yang dihasilkan diuji
homogenitasnya dengan Uji Barlett, selanjutnya dianalisis dengan sidik ragam dan
dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5% pada data populasi spora hasil kultur
traping. Hasil penelitian menunjukkan (1) populasi FMA baik pada sampel kebun
lada monokultur maupun kebun lada polikultur menunjukkan hasil yang tidak
berbeda nyata (2) berdasarkan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener,
keragaman FMA pada kebun lada monokultur lebih tinggi dari kebun lada
polikultur dan (3) jenis FMA yang dominan dari hasil kultur traping dengan
sampel tanah kebun lada monokultur yaitu spora spesies kode S7, pada sampel
kebun lada tumpangsari kopi didominansi kode S7, sedangkan pada kebun lada
tumpangsari kakao didominansi oleh kode S6.
Kata kunci: Fungi mikoriza arbuscular, keragaman, populasi