Abstract :
Eau de parfum dalam pembuatannya memerlukan bahan-bahan aromatik untuk
memberikan aroma wangi. Salah satunya yaitu minyak atsiri yang dapat
diperoleh dari kayu putih. Kayu putih memiliki kandungan senyawa eucalyptol
yang dapat memberikan aroma wangi yang segar dan menenangkan. Namun,
penggunaan formulasi minyak atsiri kayu putih yang tidak tepat akan berdampak
terhadap kualitas eau de parfum yang dihasilkan. Oleh karena itu, perlu
dilakukannya penelitian ini untuk mendapatkan formulasi terbaik dari penggunaan
minyak atsiri kayu putih dengan penambahan jenis minyak atsiri lainnya menjadi
eau de parfum. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok
Lengkap (RAKL) secara faktor tunggal dengan 6 perlakuan dan 4 kali
pengulangan. Pada penelitian ini digunakan formulasi minyak atsiri kayu putih
dengan 6 taraf konsentrasi (2%, 4%, 6%, 8%, 10%, 12%) yang ditambahkan
dengan jenis minyak atsiri lainnya. Data yang diperoleh diuji kesamaan ragamnya
dengan uji Bartleet. Data kemudian dianalisis ragam dan seluruh data diolah lebih
lanjut dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Pada penelitian ini,
penambahan esensial kayu putih dengan konsentrasi 4% merupakan perlakuan
terbaik yang memiliki karakteristik daya tahan wangi >5 jam, berat jenis 1,05,
tidak meninggalkan noda setelah dipakai dan memiliki daya sebar yang baik (14
cm).
Kata kunci : eau de parfum, kayu putih, minyak atsiri, aroma wangi, daya sebar.
Eau de perfume in the production requires aromatic ingredients to provide
fragrance. One of them is essential oil that can be obtained from eucalyptus.
Eucalyptus contains eucalyptol compounds that can provide a fresh and soothing
fragrant aroma. However, excessive use of eucalyptus essential oil formulations
will have an impact on the quality of the eau de perfume produced. Hence, it was
necessary to conduct this research to get the best formulation from the use of
eucalyptus essential oil with the addition of other types of essential oils into eau
de perfume. This research was arranged in single factor in a Randomized Block
Design (RAKL) with 6 treatments and 4 replications. In this research, the
formulation of eucalyptus essential oil was used 6 levels of concentration (2%,
4%, 6%, 8%, 10%, 12%) which was added with other types of essential oils. The
data obtained were tested for the similarity of variance using the Bartleet test. The
data was then analyzed for variance and all data was further processed using the
Least Significant Difference (LSD) test at the level of 5%. In this research, the
addition of eucalyptus essential with a concentration of 4% was the best treatment
which had the characteristics of lasting fragrance >5 hours, specific gravity of
1.05, did not leave stains after use and has good spreadability (14 cm).
Key words: eau de parfum, essential oils, eucalyptus, fragrant aroma,
spreadability.