Abstract :
Banjir sering terjadi di Kabupaten Tulang Bawang, salah satunya di Kecamatan
Rawa Pitu. Hal ini terjadi, karena Kecamatan Rawa Pitu dilewati Sungai Way
Tulang Bawang dan sungai kecil lainnya, serta topografi yang datar. Untuk
mengurangi dampak dari terjadi banjir tersebut, dilakukan penelitian untuk
memvisualkan genangan air dan menghitung luasan genangan air dengan kala
ulang (Q) 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun kedepan. Penelitian dilakukan dengan
menalukakan analisis data debit curah hujan yang diunduh dari Nasa Power
dengan menggunakan metode Hidrograf Sintetik Satuan (HSS) Nakayasu yang
akan digunakan untuk pengolahan pemodelan hidrodinamika dengan data DEM di
HEC-RAS 5.0.7 dan selanjutnya dilakukan pemetaan di software GIS.
Berdasarkan hasil analisis debit curah hujan kala ulang 2 s/d 100 tahun, debit
curah hujan tertinggi terjadi pada kala ulang 100 tahun, yaitu sebesar 610,7073
m
3
/s. Hasil dari memvisualkan pemodelan genangan air kala ulang tersebut adalah
luasan genangan air pada Q2 seluas 2.564,6737 ha, Q5 seluas 3.052,3494 ha, Q10
seluas 3.272,7472 ha, Q20 genangan banjir seluas 3.486,5009 ha, Q50 genangan
seluas 3.722,6388 ha, dan Q100 genangan banjir seluas 3.856,4848 ha. Genangan
air tersebut menggenangi 3 desa di Kecamatan Rawa Pitu, yaitu Desa Panggung
Mulyo, Desa Andalas Cermin, dan Desa Duto Yoso Mulyo.
Kata kunci : pemodelan hidrodinamis, genangan air, hec-ras
Floods often occur in Tulang Bawang Regency, one of which is in Rawa Pitu
District. This happens because Rawa Pitu District is crossed by the Way Tulang
Bawang River and other small rivers, and the topography is flat. To reduce the
impact of flooding, research was carried out to visualize water puddles and
calculate the area of water puddles with return periods (Q) of 2, 5, 10, 20, 50 and
100 years in the future. The research was carried out by analyzing rainfall
discharge data downloaded from Nasa Power using the Nakayasu Synthetic Unit
Hydrograph (HSS) method which will be used for processing hydrodynamic
modeling with DEM data in HEC-RAS 5.0.7 and then mapping in GIS software.
Based on the results of the analysis of rainfall discharge over the 2 to 100 year
return period, the highest rainfall discharge occurred during the 100 year return
period, namely 610.7073 m3/s. The results of visualizing the modeling of water
inundation during the return period are that the area of water inundation in Q2 is
2,564.6737 ha, Q5 is 3,052.3494 ha, Q10 is 3,272.7472 ha, Q20 is 3,486.5009 ha,
Q50 is 3,722.6388 ha, and Q100 flood inundation covering an area of 3.856,4848
ha. This puddle of water inundated 3 villages in Rawa Pitu District, namely
Panggung Mulyo Village, Andalas Cermin Village, and Duto Yoso Mulyo
Village.
Key words: hydrodynamic modeling, waterlogging, hec-ras