Abstract :
Penelitian ini bertujuan mengkaji mengenai kisah-kisah perempuan pekerja
sebagai pemulung dan makna kehidupan bagi perempuan pemulung di sebuah
kota kecil. Dalam penelitian ini perlu dilakukan karena pekerjaan sebagai
perempuan pemulung merupakan sebuah pekerjaan yang rentan. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penulis telah
menggunakan analisis kebudayaan kemiskinan dari Oscar Lewis (2016) dan
gelandangan dari Suparlan (1984). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa
perempuan pemulung yang bekerja di TPAS Kota Metro dikarenakan beberapa
alasan yaitu, tidak adanya pilihan lain, membantu suami, dan adanya ajakan dari
orang lain. Pekerjaan tersebut telah berada di sektor informal dan sangat rentan
terhadap hal-hal yang dapat terjadi, seperti rentan terhadap kesehatan dan
pelecehan seksual. Perempuan pemulung dalam memaknai kehidupannya mereka
sangat menyerah pada nasib karena tidak memungkinkan untuk mendapatkan
kehidupan yang lebih baik. Dalam kehidupannya perempuan pemulung tersebut
telah menganut kebudayaan kemiskinan yang merupakan wujud dari adaptasi dan
strategi bertahan hidup. Oleh karena itu, para perempuan pemulung kerapkali
mendirikan gubuk-gubuk di sekitar lokasi TPAS, adanya sikap yang rendah diri
dan menyerah pada nasib, tingkat pengasuhan anak yang sangat singkat, dan
ketergantungan pada pengepul. Meskipun demikian, mereka memiliki tujuan
hidup untuk membahagiakan keluarganya, tetapi mereka sangat pasrah terhadap
nasib yang mereka alami.
Kata kunci: Perempuan pemulung, sektor informal, TPAS, dan kebudayaan
kemiskinan