Abstract :
Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung api yang cukup banyak
dibanding kawasan lain di berbagai belahan dunia dengan angka 13% dari total
gunung api aktif yang ada dalam dunia. Salah satu gunung api yang masih aktif
tersebut adalah Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau (GAK) terus
memperlihatkan aktivitas vulkanik, hal ini dibuktikan oleh tsunami pada 22
Desember 2018 yang di terjadi beriringan dengan erupsi GAK. Tsunami tersebut
terjadi pada 22 Desember 2018 yang berdampak sampai ke pesisir Pandeglang,
Serang di Provinsi Jawa Barat dan Lampung Selatan di Provinsi Lampung.
Peristiwa ini menyebabkan kematian 431 jiwa, lebih dari 7,200 jiwa luka dan
kehilangan tempat tinggal 46.646 jiwa. Penduduk setempat tidak menerima tanda
peringatan pada tanggal 22 Desember 2018 akan terjadi tsunami tersebut. Tidak
adanya peringatan tsunami yang sampai ke masyarakat menandakan bahwa
infrastruktur pendeteksian tsunami yang berhubungan dengan erupsi GAK masih
belum mumpuni.
Hal ini mendorong penulis untuk menemukan solusi terhadap deteksi dini pada
proses erupsi gunung berapi hingga terjadinya tsunami. Oleh karena itu, penulis
mengajukan pembuatan perangkat pengukur tekanan atmosfer di wilayah pesisir
yang bertujuan untuk mendeteksi perubahan tekanan atmosfer yang diakibatkan
letusan GAK dan kontaktor air laut yang bertujuan untuk mendeteksi gelombang
tinggi/tsunami yang tiba di pesisir pantai. Data pengukuran tekanan atmosfer dan
gelombang tinggi air laut tersebut akan diproses dalam lingkup internet of things
hingga dapat menghasilkan peringatan yang dapat diterima oleh masyarakat.
Kata Kunci: Gunung Anak Krakatau, Tekanan Atmosfer, Kontaktor Air,
Pendeteksi Dini tsunami, Internet of Things (IoT)