Institusion
Universitas Aisyiyah Yogyakarta
Author
Muhtariya, Ana
Karjiyem, Karjiyem
Subject
RG Gynecology and obstetrics
Datestamp
2017-12-29 03:20:34
Abstract :
Ruptur perineum merupakan salah satu penyebab perdarahan di Indonesia.
Prevalensi kejadian ruptur perineum di Indonesia pada golongan umur 25-30
tahun yaitu 24 % sedangkan pada umur 32-39 tahun yaitu 62 %. Di BP-RB
Widuri Sleman berdasarkan data persalinan pada tahun 2010 dari kasus 313
persalinan normal 266 (72,2 %) mengalami ruptur perineum dan kejadian
terbanyak terjadi pada primipara sebanyak 182 dan pada multipara sebanyak 84.
Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan paritas dengan jenis ruptur
perineum pada ibu bersalin normal di BP-RB Widuri Sleman Tahun2011.
Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan waktu
retrospektif. Data diambil pada bulan Juli 2012 dengan teknik sampling yang
digunakan adalah purposive sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah
139 responden. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah pedoman
dokumentasi dengan uji statistik Chi Square.
Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar paritas ibu bersalin
adalah primipara dengan jumlah 75 (54,0%) dan sebagian ibu mengalami ruptur
perineum spontan dengan jumlah 79 (56,8%). Berdasarkan hasil uji statistik
didapatkan nilai p value 0,003 membuktikan bahwa terdapat hubungan paritas
dengan jenis ruptur perineum dengan keeratan hubungan 0,244 yaitu dalam
kriteria rendah. Sebagian besar ruptur ruptur episiotomi pada ibu bersalin normal
disebabkan karena perineum kaku dengan jumlah 60 (43,2%).
Saran bagi bidan di BP-RB Widuri agar tetap mempertahankan kinerja
dalam melakukan asuhan persalinan sayang ibu dengan tidak melakukan
episiotomi secara rutin tanpa ada indikasi. Buat ibu bersalin hendaknya saat hamil
melakukan senam hamil untuk meregangkan otot-otot perineum supaya tidak
kaku, sehingga dapat meminimalisir terjadinya ruptur penrineum.