Institusion
Universitas Aisyiyah Yogyakarta
Author
Putri Wijayanti, 1811304065
Yuyun Nailufar, S.Si., M.Biomed
Yeni Rahmawati, S.Si., M.Sc
Subject
QR Microbiology
Datestamp
2023-10-31 04:26:35
Abstract :
Centella asiatica (CA) mengandung banyak bahan aktif yang memberikan banyak manfaat bagi tubuh salah satunya sebagai agen antiinflamasi. Ekstrak CA berguna sebagai hepatoprotektor. Keracunan obat dapat mengakibatkan kerusakan pada hati, karena hati berperan mendetoksifikasi racun di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran histopatologi hati setelah diinduksi ekstrak CA dan manfaat CA sebagai antiinflamasi, juga variasi dosis serta lama waktu pemberian ekstrak CA terhadap gambaran histopatologi hati. Pencarian literature dilakukan pada tiga database yaitu PubMed, Google Cendekia, dan Google Scholar. Senyawa bioaktif dalam CA antara lain senyawa madekasosida (madecassoside) yang berperan memperbaiki kerusakan sel sehingga madekasosida diketahui sebagai senyawa antiinflamasi. Variasi dosis dan lama waktu pemberian CA memberikan efek yang berbeda. Penggunaan dosis tinggi dan dosis rendah tergolong aman dan efektif menyembuhkan kerusakan sel hati. Pengamatan mikroskopis terlihat jaringan hati tikus yang diinduksi obat dosis tinggi menunjukkan struktur histologi tidak normal, organ seluler yang terdistorsi disertai dengan vakuola, sel hipertrofik, kerusakan seluler, peradangan, pelebaran sinusoid interseluler, dan kemacetan di vena sentral. Sedangkan preparat jaringan hati tikus yang keracunan obat secara oral dan diberi perawatan dengan CA menunjukkan susunan hepatosit dan sinusoid yang mendekati normal, disertai dengan kongesti vena sentral (CV) ringan. Senyawa madekasosida sebagai agen antiinflamasi pada CA, perbedaan variasi dosis dan lama waktu dalam pemberian CA berpengaruh dalam proses perbaikan kerusakan sel dan memberikan efek yang berbeda, serta terdapat perbedaan struktur hati yang mengalami kerusakan setelah induksi obat dosis tinggi dan mengalami perbaikan setelah diinduksi CA. Perlu dilakukan penelitian dengan induksi obat yang sama untuk memicu kerusakan sel agar diketahui lebih lanjut efek toksisitas obat tersebut.