Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
Sari, Eleonora Vivi Purnama
Subject
Jurnalisme
Datestamp
2013-04-29 11:32:21
Abstract :
Masyarakat Indonesia mulai mengenal terorisme pasca peristiwa pengeboman di Legian, Kuta, Bali
pada tahun 2002. Peristiwa yang terjadi pada tahun 2010 adalah penangkapan sekelompok anggota
jaringan teroris pada akhir bulan Februari, penangkapan Abu Bakar Ba?asyir yang diduga mendanai
pelatihan teroris, Densus 88 yang berhasil mengetahui jejak Dulmatin salah satu gembong teroris
paling utama yang akhirnya tertembak mati oleh Densus 88 dan yang 2 peristiwa terakhir adalah
Perampokan CIMB Niaga yang diduga dilakukan oleh sekelompok teroris dalam usaha mencari dana
serta penyerangan sekelompok teroris di Mapolsek Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
obyektivitas dua media lokal Yogyakarta yaitu SKH Kedaulatan Rakyat dan SKH Bernas Jogja
mengenai pemberitaan aksi terorisme dan upaya kepolisian dalam pemburuan teroris. Obyek yang
diambil peneliti adalah berita-berita mengenai aksi terorisme dan upaya kepolisian dalam pemburuan
teroris periode 23 Februari 2010-23 Oktober 2010. Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat
obyektivitas kedua media lokal akan pemberitaan aksi terorisme dan upaya kepolisian dalam
pemburuan teroris. Untuk melihat obyektivitas sebuah media, peneliti menggunakan kerangka
obyektivitas yang dikemukakan oleh Westerstahl sebagai pedoman dalam pengukuran unit-unit yang
dianalisis. Obyektivitas yang dikemukakan oleh Westerstahl terdiri dari faktualitas (factuality) yang
mengukur jenis fakta, kelengkapan unsur 5W + 1H, verifikasi terhadap fakta, pernyataan narasumber,
nilai berita dan impartialitas (impartiality) yang mengukur source bias, slant, sensasionalisme dan
linkage. Berdasarkan hasil pengolahan data dan kesimpulan, maka pemberitaan aksi terorisme dan
upaya kepolisian dalam pemburuan terorisme dalam SKH Kedaulatan Rakyat dan SKH Bernas Jogja
Periode 23 Februari-23 Oktober 2010 hampir keseluruhan beritanya memenuhi kriteria obyektivitas
Westerstahl kecuali dalam unsur source bias yang cenderung memiliki tipe liputan satu sisi dan nilai
berita yang dihasilkan oleh kedua media melalui penelitian ini menunjukkan bahwa kedua media
belum memiliki nilai berita yang tinggi.