Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
Prawesti, Elisabeth Arum Dian
Subject
Jurnalisme
Datestamp
2013-05-01 08:54:07
Abstract :
Pemilihan umum presiden 2009-2014 menjadi wadah demokrasi yang beragam dengan munculnya
tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden. Salah satu nama calon presiden adalah Jusuf Kalla.
Isu yang berkembang pada saat pra pemilu presiden adalah presiden harus Jawa. Kehadiran Jusuf
Kalla unik, satusatunya capres berasal dari luar Jawa dan masih menjabat sebagai wakil presiden
periode 2004-2009, otomatis bersaing dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang masih sebagai
atasannya pada pemerintahan Kabinet Bersatu. Surat Kabar Harian Media Indonesia sebagai objek
penelitian, karena adanya keterkaitan Jusuf Kalla dan pemilik media yakni Surya Paloh, keduanya
memegang jabatan tertinggi di Partai Golkar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui SKH Media
Indonesia dalam mencitrakan Jusuf Kalla berkaitan dengan majunya sebagai calon presiden masa
pemilu presiden 2009 pada rubrik Editorial. Editorial merupakan opini redaksi yang mencerminkan
sikap resmi SKH Media Indonesia. Penelitian ini mengkaji keberpihakan Surya Paloh mempengaruhi
sikap editorial SKH Media Indonesia. Analisis level teks editorial dilakukan dengan metode framing
dari Robert N. Entman, sedangkan level konteks dengan wawancara tim editorial SKH Media
Indonesia dengan berpijak pada proses framing dari diagram Dietram A. Scheufele. Hasil penelitian
pada tingkat teks, sosok Jusuf Kalla dicitrakan positif oleh SKH Media Indonesia. Penekanan bahasa
pada teks editorial mencitrakan Jusuf Kalla sebagai sosok yang pro demokrasi tanpa memandang suku,
ras, agama dan golongan. Jusuf Kalla digambarkan sebagai pemimpin yang memiliki karakter cepat
tanggap dan bertanggungjawab dalam mengambil keputusan. Pada tingkat konteks, SKH Media
Indonesia mendukung Jusuf Kalla sebagai capres 2009 karena Jusuf Kalla dianggap sebagai
pendobrak belenggu sosiologis masyarakat tentang presiden harus dari Jawa. Jusuf Kalla dinilai
sebagai sosok pemimpin yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini karena kecepatannya dalam
berpikir dan bertindak dengan melihat kinerjanya ketika menjadi wapres. Citra Jusuf Kalla tersebut
dipengaruhi Surya Paloh sebagai pemilik media, meskipun intervensinya hanya berupa percakapan
singkat di luar rapat. Editorial SKH Media Indonesia tetap mengaku independen karena Surya Paloh
bahkan seluruh redaksi termasuk anggota tim editorial yang terlibat sebagai politik praktis tidak
diperbolehkan masuk ke dalam dapur editorial Media Indonesia.