Abstract :
Arus lalu lintas di kabupaten Sleman ? Yogyakarta sangat tinggi, terutama
dibagian utara dan barat. Salah satu penyebabnya adalah kawasan Sleman
merupakan daerah pendidikan dan wisata provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Banyaknya jumlah kendaraan tersebut dapat menyebabkan terjadinya peningkatan
konflik-konflik di daerah persimpangan seperti terjadinya peningkatan panjang
antrian, peningkatan kapasitas jalan dan bertambahnya nilai derajat kejenuhan.
Kondisi ini terjadi pada simpang tiga tak bersinyal (Jalan Tajem Kadisoka dan
Jalan Sorogenen Sidorejo).
Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengukuran awal untuk
mengambil data lebar pendekat pada simpang tersebut dan pengukuran untuk
mencari panjang antrian yang dilakukan setiap 10 meter. Data yang diambil
adalah semua jenis kendaraan yang melewati simpang, baik kendaraan yang belok
kiri, lurus maupun belok kanan, serta besarnya panjang antrian. Pengambilan data
dilakukan selama 3 hari yaitu pada hari Jumat, 18 Desember 2015, Sabtu, 19
Desember 2015 dan Minggu, 20 Desember 2015.
Waktu pengamatan yang diambil dalam penelitian ini adalah pada pagi hari pukul
06.00-08.00 WIB, siang hari pukul 12.00-14.00 WIB, dan sore hari pukul 16.00-
18.00 WIB. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan Metode
MKJI 1997.
Hasil analisis yang dilakukan bahwa untuk kondisi saat ini simpang tiga
tak bersinyal Jalan Tajem Kadisoka dan Jalan Sorogenen Sidorejo masih mampu
melayani arus kendaraan yang keluar masuk simpang, hal ini ditunjukan dengan
nilai DS untuk jam puncak terpadat di hari sabtu adalah 0,7456. Untuk perbaikan
agar semakin memberikan kelancaran kendaraan yang keluar masuk pada
simpang dapat dilakukan dengan memberikan rambu-rambu lalu lintas pada
daerah persimpangan. Alternatif lain juga disertakan untuk memberikan
kelancaran arus kendaraan di daerah persimpangan, maka dengan begitu akan
memenuhi syarat MKJI 1997 yang lebih baik lagi untuk kedepannya.