Abstract :
Konseling menunjukkan adanya pertemuan konselor dan konseli dan
menunjukkan adanya proses pengembangan hubungan interpersonal, yang dimulai
dari kontak, keterlibatan, keakraban, sebaliknya ada juga perusakan hubungan dan
pemutusan hubungan. Meningkatknya hubungan impersonal menjadi
interpersonal terutama didukung oleh keterbukaan, empati, dukungan, sikap
positif dan kesetaraan. Kualitas-kualitas tersebut dikenal sebagai karakteristik
komunikasi interpersonal yang efektif secara humanistik. Demikian pula dengan
VCT (Voluntary Counseling Test), dalam prosesnya membutuhkan pendekatanpendekatan
komunikasi interpersonal, untuk membangun suasana berkomunikasi
yang nyaman bagi konselor dan konseli.
Dengan demikian rumusan permasalahanya adalah bagaimana
karakteristik komunikasi interpersonal dalam proses VCT pra dan pasca tes HIV.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik komunikasi
interpersonal dalam Voluntary Counseling Test (VCT) pra dan pasca tes HIV.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan sumber data
primer atau informannya adalah pasangan konselor dan konseli. Data didapatkan
melalui wawancara mendalam (indepth interview) dan studi pustaka, selanjutnya,
analisa data disajikan dalam bentuk deskripsi analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wujud komunikasi interpersonal dalam
VCT berupa pertukaran pesan. Dalam VCT, ada penyampai dan penerima pesan
secara bergantian. Konsep komunikasi interpesonal juga ditemukan dalam VCT
adalah adanya pengembangan hubungan. Konselor dan konseli adalah orang yang
belum kenal sebelumnya. Kemudian, hubungan bergeser dari impersonal menjadi
interpersonal ditandai dengan meningkatnya keterbukaan diri. Dari hasil
penelitian juga tercipta sebuah model karakteristik komunikasi interpersonal
dalam VCT. Dari model tersebut dapat diketahui bahwa yang harus dimiliki oleh
konselor agar tujuan konselor dapat tercapai adalah kesan pertama yang baik,
keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap menghargai, kesetaraan,
keterpercayaan dan kekeluargaan. Dari pihak konseli, beberapa faktor pembukaan
diri, timbul ketika konselor memanfaatkan aspek-aspek yang harus dimilikinya..
Faktor tersebut adalah kenyamanan, keterbukaan, sikap positif, dukungan,
kesetaraan dan kekeluargaan.