Abstract :
Berhadapan satu lawan satu dengan teks tradisi lisan bukanlah hal yang mudah. Sebagai
Subyek Pembaca dengan metode pembacaan empirisisme rasional yang mempersyaratkan
keterjarakan, teks tradisi lisan memiliki karakter yang sangat berlainan dengan teks tertulis pada
umumnya. Ada begitu banyak faktor yang terintegrasikan dalam pembacaan teks; sejarah dan
tradisi, sifat dan genealogi, hingga elemen kebenaran yang diyakini masyarakat, yang kemudian
terkristalisasikan dalam identitas kedirian hari ini.
Bagi masyarakat Jawa yang memiliki struktur masyarakat berlapis dan tertutup, pola
merupakan sebuah elemen yang mendasari keyakinan atas cara pandang hidup. Dengan
mempelajari pola, seseorang dapat merangkai sebuah pola baru yang bisa menjadi bekal untuk
membaca pergerakan demi pergerakan ke depan. Hal ini sesungguhnya dilandasi oleh ide
pengkapsulan alam kedalam cara berpikir, dimana pola alam yang memiliki ritme diterapkan
pada berbagai sendimentasi kehidupan pribadi dan juga saat merumuskan kehidupan sosial.
Karena itulah, tujuan ketentraman dalam masyarakat Jawa adalah pola keseimbangan; antara
alam dengan manusia, antara publik dan privat.
Walau demikian, relasional masyarakat yang berlapis dan tertutup ini dengan masyarakat
pendatang terbingkai dalam situasi yang rumit dan kompleks. Dengan prospektus yang diamini
dari sebuah sejarah keagungan pada masa-masa kerajaan, masyarakat Jawa kerap memandang
dirinya sebagai entitas yang telah mencapai fase kesempurnaan hidup; hal yang justru
menciptakan jurang antara dirinya dengan realitas kehidupan yang dijalaninya hari ini.
Sementara, tentunya, keteraturan realitas hari ini membutuhkan sebuah wisdom yang berakar
pada persoalan-persoalan hari ini; bukan wisdom yang diberangkatkan semata-mata dari sejarah
keagungan masa lalu.
Munculnya Bangsa Cina sebagai pengisi level ini merupakan konsekuensi logis atas
kekosongan dalam pembentukan struktur masyarakat modern yang mulai mengenal sistem
perekonomian global. Sebagai bangsa perantau yang memiliki sejarah kebudayaan tua dan
panjang, jaringan perekonomian yang dimilikinya memungkinkan Cina untuk?secara pelan tapi
pasti?menggerus level kelas menengah masyarakat Jawa yang selama ini dikuasai oleh para
priyayi dan orang-orang terdekat raja. Tidak mengherankan apabila transisi rezim Majapahit-
Demak diwarnai perdebatan dan tudingan atas keterlibatan Cina atas motif politiknya.
Pembacaan ungkapan tradisional saloka ?Jawa Safar Cina Sajadah? merupakan sebuah
upaya untuk melihat kembali faktor-faktor yang mendasari relasi antara kedua bangsa ini.
Dengan latar fase Islamisasi pada masa awal konsolidasi kerajaan Islam pertama di Jawa?
Demak Bintara, pembacaan atas teks ini bisa mengarahkan Subyek Pembaca kepada sifat dasar
dari kedua bangsa ini; Jawa dengan keagungan dan tanah yang subur, dan Cina dengan
keuletannya. Bahwa harus diakui, kolonialisme Belanda hanya memanfaatkan sifat-sifat
mendasar ini saat menstrukturisasikan masyarakat jajahan di Jawa pada level-level yang
bertingkat.
Dengan metode sejarah mental dan pendekatan hermeneutika, proses pembongkaran
struktur teks memungkinkan Subjek Pembaca untuk kembali mendudukkan persoalan pada sifat
dasar yang dimiliki kedua bangsa ini. Dengan demikian, teks tradisi lisan yang bersifat esoteris
ini harus dipampangkan dengan meninggalkan ego kemanusiaan hari ini agar pola kebersamaan
yang dicita-citakan dalam konsep berbangsa dapat terwujud secara lumrah dan bijaksana. Teks
yang sesungguhnya tidaklah sekedar membongkar sifat dasar kedua bangsa di atas semata,
namun juga sifat dasar Subyek Pembaca yang cenderung berusaha menaklukkan sesuatu di luar
dirinya. Inilah sesungguhnya yang menjadi tujuan dari dialektika kemanusiaan. Sebuah
pertanyaan yang masih membutuhkan jawaban.