Abstract :
Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu cara berkomunikasi yang dilakukan oleh
manusia adalah melalui musik. Musik merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti
oleh semua orang, tanpa memandang usia, baik anak kecil, remaja, maupun orang
tua.Namun, remaja merupakan usia yang paling banyak terpengaruh oleh musik karena,
remaja merupakan masa dimana seorang manusia memasuki tahap perkembangan untuk
mencapai kematangan mental, emosional sosial, hingga fisik.
Di Yogyakarta, keberadaan musik bertumbuh dan mendapat apresiasi yang baik.
Hal ini ditandai dengan sering diadakannya event pertunjukan musik. Oleh karena itu,
diperlukan suatu wadah yang dapat menampung jumlah penonton dalam skala besar,
seperti Gedung Pertunjukan. Selain itu juga diperlukan wadah agar dapat menampung
penggemar musik remaja yang sekedar ingin mencoba bergelut dibidang musik atau
apresiasi para musisi berbakat.
Seorang remaja memiliki karakter yang cukup kompleks seperti, sentimental,
ego/egois, labil, bebas, dan kepribadian yang dinamis. Oleh karena itu, diharapkan sebuah
gedung pertunjukan yang mampu mewadahiaspirasi remaja dengan karakter yang cukup
kompleks tersebut.Untuk menjawab kebutuhan tersebut maka, konsep yang digunakan
adalah yang berhubungan dengan karakter remaja itu sendiri.
Dalam menjawab konsep tersebut, dipilih beberapa karakter yang dapat mewakili
karakter dari seorang remaja, yaitu bebas, labil, dan egois. Karakter-karakter tersebut
mewakili sifat remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah berubah pikiran,
dan memiliki tingkat emosi yang belum terkontrol dengan cukup baik. Oleh karena itu,
pendekatan perencanaan dan perancangan Gedung Pertunjukan untuk remaja di Sleman,
Yogyakarta menggunakan pendekatan Arsitektur Dekonstruksi melalui kelompok Shard
& Sharks.
Melalui pendekatan Arsitektur Dekonstruksi (Shard & Sharks), karakter bebas
ditampilkan pada pengolahan tata ruang luar dan tata ruang dalam; karakter labil
ditampilkan pada pengolahan tata ruang dalam dan bentuk massa; serta karakter egois
yang ditampilkan melalui penggunaan warna. Baik pengolahan tata ruang luar,
pengolahan tata ruang dalam, dan pemilihan penggunaan warna mampu menjawab
konsep desain dengan menggunakan karakter remaja yaitu, bebas, labil, dan ego/egois.