Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
WARDHANI, MUSTIKA KUSUMANING
Subject
Bangunan Arsitektural
Datestamp
2024-07-11 11:05:28
Abstract :
Kematian adalah konsistensi dari keadaan lahir pada setiap manusia dan
kepastian mutlak akan proses kehidupan. Kematian masih dianggap tabu untuk
dibicarakan namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut haruslah
dipersiapkan. Manusia hidup berdasarkan adat dan agama yang mereka yakini dan
kebanyakan dari sifatnya dilakukan secara turun temurun sebagai bagian dari
tradisi. Penangganan jenazah dengan membakar mayat atau biasa disebut kremasi
menjadi salah satu alternatif penangganan jenazah selain pemakaman. Kremasi
menjadi trend dan mengalami peningkatan dikarenakan lahan pemakaman mulai
tergusur oleh banyaknya bangunan di kota-kota besar seperti di Yogyakarta.
Krematorium Sankhara Anicca di Yogyakarta adalah sebuah wadah yang
menampung kegiatan mulai dari persemayaman, proses kremasi, sampai pada
penyimpanan abu sisa kremasi. Rangkaian kegiatan penanganan jenazah
direncanakan dalam satu area sehingga dapat memudahkan upacara penghormatan
terakhir kepada jenazah tanpa harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kematian seseorang yang dicintai menimbulkan terguncangnya psikologi
keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Permasalahan inilah yang mendasari
pemilihan pendekatan konsep penataan ruang dalam dan ruang luar bangunan
Krematorium sehingga bangunan tidak hanya dipandang sebagai wadah kegiatan,
tetapi juga memiliki peran yang kuat terhadap psikologi seseorang. Metode yang
digunakan dalam proses mendesain adalah dengan penarikan kesimpulan secara
deduktif dari studi literatur, survey lapangan dan wawancara dengan narasumber
yang berada di bangunan sejenis.
Mencapai kondisi seimbang menjadi tujuan akhir dari konsep yang
ditawarkan, yaitu dengan pendekatan prinsip Hierarki Profan-Sakral sehingga
dapat menyadarkan manusia bahwa segala yang terkondisi tidaklah kekal.
Simbolisme Profan digunakan pada Rumah Duka tempat dimana hiruk pikuk
duniawi masih bercampur menjadi satu, sedangkan simbolisme Sakral merujuk
pada Krematorium dan Kolumbarium dimana leburnya raga kembali kepada alam
dalam keadaan sendiri dan kosong.