Abstract :
Dalam sepuluh tahun terakhir, Kota Tangerang Selatan sebagai salah satu kota satelit Ibukota
berkembang dengan sangat pesat. Permintaan properti terus meningkat, baik untuk dihuni, maupun untuk
investasi. Kecenderungan untuk tinggal di rumah (landed / detached house) yang masih mendominasi
berdampak pada kecenderungan developer dan investor untuk membangun perumahan-perumahan dalam
berbagai skala. Tanpa antisipasi terhadap pembangunan rumah secara terus menerus, kota akan
didominasi oleh kalangan atas saja, kalangan menengah ke bawah tersingkirkan, kesenjangan sosialekonomi
semakin melebar, hingga hilangnya nilai-nilai dasar seperti kepedulian kepada sesama dan
lingkungan akan tidak terhindarkan. Walaupun kecenderungan untuk beralih ke hunian vertikal masih
rendah, perlu ada solusi antisipatif untuk mendorong terbentuknya Kota Tangerang sebagai kota yang
livable bagi berbagai lapisan masyarakat.
Disamping membentuk hunian yang nyaman untuk mendorong peralihan dari landed house ke
hunian vertikal, masalah interaksi sosial menjadi krusial ketika pembangunan properti hunian berlombalomba
untuk memberikan hunian mewah dengan desain yang menjunjung tinggi gaya hidup
individualistis. Social sustainability dalam skala hunian belum mendapat perhatian secara khusus.
Padahal, menurut Jane Jacobs, built environment bukanlah sebatas artefak statis, namun sebuah sistem
urban dengan penghuni yang mempengaruhi satu sama lain, serta berevolusi secara kompleks dan dinamis
sejalan dengan atribut fisik container tersebut. Oleh karena itu, rumusan masalah yang diangkat adalah:
Bagaimana wujud rancangan bangunan Low Rise Apartment di Tangerang Selatan yang dapat
menciptakan interaksi sosial melalui pengolahan tata ruang dalam dan tata ruang luar berdasarkan
pendekatan social sustainable architecture?
Melalui Low Rise Apartment di Tangerang Selatan, apartemen yang nyaman, aman dan
menjunjung tinggi interaksi sosial dihadirkan dengan pendekatan pada tiga poin utama, yaitu sense of
community, sense of nature, dan sense of safety. Ketiga poin yang dilandasi oleh teori social sustainable
architecture dan proxemic theory ini menjadi dasar transformasi bentuk, tata ruang luar dan tata ruang
dalam, untuk membentuk ruang-ruang potensial yang merangsang munculnya interaksi sosial pada
berbagai skala. Low Rise Apartment ini akan menjadi miniatur dari livable city, maka dinamika interaksi
sosial ditunjang mulai dari zona hunian hingga zona transisi yang kaya akan ruang-ruang sociopetal
hingga katalis interaksi sosial seperti pet & gardening dan green urban lifestyle.