Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
OHMAR, THEODORUS ALRYANO DEOTAMA
Subject
Lingkungan Kawasan
Datestamp
2016-11-24 11:19:47
Abstract :
Berdasarkan penelitian Prof. Gerth tahun 1929 dan Purnamaningsih tahun 1972,
sampel batuan gamping pada situs Gunung Gamping yang terletak di kawasan
Cagar Alam Gunung Gamping, Ambarketawang, Sleman, mengandung fosil-fosil
laut yang berumur epoh Eosen. Eosen sendiri merupakan salah satu zaman pada
masa kenozoikum sekitar 56,7 juta-35,5 juta tahun yang lalu. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa situs Gunung Gamping ini merupakan batuan gamping
tertua di Pulau Jawa jika dibandingkan dengan umur batuan gamping lainnya di
Pulau Jawa yang rata-rata terbentuk pada epoh Miosen. Akan tetapi, karena
eksploitasi karst besar-besaran yang dilakukan untuk membangun Kota
Yogyakarta, situs Gunung Gamping ini hanya meninggalkan bongkahan sebesar
2m x 2m x 10m. Adapun terdapat adat yang masih sangat kental yang dilakukan
masyarakat di kawasan ini untuk menghormati setan penunggu Gunung Gamping,
yaitu Saparan Bekakak. Adat ini mengorbankan sepasang suami istri dalam bentuk
boneka ketan dan dilakukan setiap bulan Sapar. Melihat potensi yang sangat besar,
muncullah ide untuk merevitalisasi kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam
Gunung Gamping yang sampai sekarang belum dapat dijadikan sebagai Objek dan
Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) kedalam bentuk pengadaan Museum Situs
Gunung Gamping Eosen. Selain menampilkan situs eksisting Gunung Gamping,
museum situs ini akan menampilkan situs Gunung Gamping yang sampai saat ini
masih terpendam dibawah tanah, beberapa koleksi yang berhubungan dengan art
and history kawasan, dan sampel situs batu gamping di 4 jaman pada epoh Eosen.
Kemudian fungsi lainnya yaitu research center serta public and facilities area yang
meliputi perpustakaan, café, dan souvenir. Karena kondisi alam dan kebudayaan
yang masih kental, pendekatan yang dilakukan dalam desain museum situs ini
adalah The Obscure: Primordial and Untouched Theory yang akan menganalisis
hal-hal yang bersifat intangible dan The Role of Nature in Architectural Creativity
Theory yang akan menganalisis hal-hal yang bersifat tangible.