Abstract :
Perkembangan film Indonesia pada saat ini mengalami peningkatan
dan penurunan sehingga mempertahankan peningkatan film itu sangatlah
sulit. Hal tersebut merupakan tinjauan dari segi kuantitas produksi, apabila
dilihat dari sudut pandang yang lain akan mendapatkan hasil yang serupa.
Alasan kualitas produksi maupun film yang relatif kurang baik bila ditinjau
lebih lanjut adalah karena kurangnya sarana edukasi yang dapat
menampung dan menjadi titik awal tumbuh dan berkembangnya suatu ide
kreatif.
Sedangkan untuk kurikulum yang akan digunakan adalah kurikulum
yang berasal dari peraturan dikti. Seperti misalnya jurusan film di
Universitas Binus menggunakan kurikulum yang mencakup dasar-dasar
animasi, menggambar karakter, storyboard, dan arahan seni. Selain itu,
rencana kurikulum juga dapat di tawarkan kepada dikti Indonesia sehingga
kurikulum pada Sekolah Film Indonesia menjadi lebih bagus lagi.
Sarana edukasi pada Bangunan Sekolah Tinggi Film Indonesia di
Yogyakarta dapat direalisasikan dengan memberikan pendidikan formal
yang utama pada jurusan-jurusan film yang telah direncanakan. Fungsi
bangunan ini adalah sebagai sarana edukatif.
Pengolahan konsep yang ditekankan pada bangunan Sekolah Tinggi
Film Indonesia di Yogyakarta adalah merancang efisiensi energi, lahan
dan material serta penataan dan orientasi ruang dalam dan ruang luar
dengan melalui pendekatan arsitektur berkelanjutan. Lokasi bangunan
direncanakan di kawasan Jombor Lor, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati,
Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta.