Abstract :
Menurut Bambang dan Muntohar (2007), bahwa jembatan kayu merupakan
jembatan dengan material yang dapat diperbaharui (renewable). Kayu adalah sumber
daya alam yang pemanfaatannya akhir-akhir ini banyak pada bidang industri kayu
lapis, furnitur. Dapat dikatakan sangat sedikit pemakaiannya dalam bidang jembatan
secara langsung sebagai konstruksi utama. Paling tidak penggunaan kayu sebagai
bekisting untuk jembatan.
Total panjang bentang jembatan yang dirancang adalah 18 m, dengan lebar
jalan utama 7 m, lebar trotoar 2x1 m, tinggi gelagar induk 3 m. Jarak gelagar
memanjang 0,5 m sedangkan jarak gelagar melintang 3 m. Kayu yang digunakan
adalah kayu merbau dengan kelas kuat 1. Jembatan yang didesain adalah jembatan
kayu dengan dengan model warren truss terbalik.
Gelagar memanjang yang digunakan terbagi menjadi 2 yaitu gelagar
memanjang yang terletak pada lantai jalan utama dan lantai trotoar. Yang masing
masing memiliki ukuran 20x25 dan 15x20 (cm). Gelagar melintang yang digunakan
tersusun atas 3 lapis dengan ukuran 70x90 (cm). Gelagar Induk terbagi menjadi 4
bagian yaitu batang atas, batang bawah, batang tegak, batang diagonal. Masing
masing memiliki dimensi 25x30x300 (cm), 20x30x300 (cm), 20x30x300 (cm),
20x30x425 (cm). Dari hasil penelitian dan pengujian, kayu merbau termasuk kayu
kuat kelas 1 dan dapat digunakan sebagai bahan struktural bangunan, dan berdasarkan
hasil analisis dengan menggunakan metode analisis titik simpul/buhul serta
menggunakan hasil analisis gaya batang menggunakan software pada kayu merbau
dapat digunakan sebagai bahan utama untuk membuat jembatan kayu.