Abstract :
Setiap perusahaan atau organisasi tentu memiliki visi dan misi yang menjadi
landasan spiritual dan landasan moral untuk mencapai tujuan perusahaan.
Aspek kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian dari nilai-nilai yang
dianut oleh sesuatu perusahaan. Sasaran utama dari kesehatan dan
keselamatan kerja adalah sumber daya manusia (pekerja atau karyawan). Salah
satu indikasi keberhasilan dalam implementasi nilai-nilai kesehatan dan
keselamatan kerja adalah budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Budaya K3 fokus pada akar penyebab dari kecelakaan, perilaku dan cara
melakukan pekerjaan.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menentukan level penerapan
budaya K3 dan menganalisis faktor-faktor penerapan budaya K3 yang belum
mencapai tingkat penerapan yang baik dengan memberikan rekomendasi atau
solusi sebagai upaya meningkatkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja di
PT Adi Satria Abadi. Penelitian ini dilakukan dengan membuat kuesioner yang
berisi tentang parameter budaya keselamatan dan kesehatan kerja mengacu
pada Cooper?s Reciprocal Safety Culture Model yang dikembangkan oleh
Dominic Cooper. Dalam model ini ada 3 dimensi yang perlu diperhatikan dalam
menentukan tingkat penerapan budaya K3 yaitu dimensi personal, dimensi
behaviour, dan dimensi organization. Dimensi personal dan dimensi behaviour
diukur menggunakan kuesioner, sedangkan dimensi organization diukur
menggunakan standar audit K3 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 50 tahun 2012. Kuesioner ini secara random diberikan kepada
karyawan di departemen produksi di PT Adi Satria Abadi, sedang audit K3
dilakukan dengan menggali infomasi dari penanggung jawab K3 dan pihak yang
bertanggung jawab (kepala bagian) di departemen produksi. Data yang sudah
diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan analisis skor untuk menentukan
tingkat penerapan budaya K3 di perusahaan tersebut.
Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat penerapan budaya K3 di PT Adi
Satria Abadi sudah ada pada level baik. Dari ketiga dimensi yang dilihat, dimensi
behaviour (dimensi perilaku) merupakan dimensi yang perlu diperbaiki karena
ada beberapa faktor yang belum mencapai level yang baik yaitu evaluasi di akhir
pekerjaan, istirahat sejenak ketika lelah, pelaporan masalah berkaitan dengan K3
kepada atasan, kepedulian terhadap keselamatan dan kesehatan rekan kerja,
inspeksi terhadap lingkungan kerja, permohonan perbaikan/penggantian alat
atau mesin dan dalam hal penangan limbah. Sedangkan dimensi-dimensi yang
lainnya sudah berada pada level yang baik dan bahkan sangat baik.