Abstract :
Lebakmuncang merupakan suatu desa di Kabupaten Bandung yang memiliki potensi untuk
menjadi Kawasan wisata. Dengan kekayaan alamnya, Lebakmuncang menyuguhkan banyak
sekali atraksi yang dapat dinikmati para wisatawan. Namun para pendatang yang hadir memilih
untuk menetap pada Hotel yang dikelola oleh swasta maupun investor asing. Hal tersebut
tentunya sangat disayangkan, mengingat banyak pula warga yang membuat tempat tinggalnya
menjadi Homestay.
Minimnya minat wisatawan untuk menginap di Homestay warga sekitar tentunya bukan
tanpa alasan. Kurangnya fasilitas yang ada pada Homestay, hingga kondiai homestay nya yang
tidak layak untuk disewakan.
Gagasan penataan Kawasan permukiman sebagai Homestay dapat menjadi patron penataan
yang dapat di lakukan oleh perangkat desa setempat untuk memaksimalkan kondisi ekonomi
masyarakat sekitar, dimana Kawasan ini dikelola, dan di jalankan oleh mereka para warga sekitar. Mengingat Kawasan ini rawan untuk merusak alam sekitar, tentunya konsep Arsitektural Kontekstual yang diusung dapat menjadi jawaban atas kekhawatiran tersebut.
Secara kontektual arsitektur yang dijalankan tentu berpatron pada Responsive Environment demi menjaga kelestarian alam sekitar, serta tidak mengurangi potensi pendapatan ekonomi
dari warga sekitar terhadap para wisatawan. Strategi desain ruang luar dan dalam tentunya juga mengacu pada konteks sebagai parameternya