Abstract :
Bidang dan pola pembinaan Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta (STSPY) merupakan
kesinambungan antara pendidikan Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang (gereja lokal) dengan
gereja universal. Lingkungan binaan STSPY akan selalu mengacu pada dua pilar dasar tersebut, yakni
pengintegrasian keempat bidang pendidikan (kepribadian, kerohanian, intelektual, dan pastoral) dalam
dinamika tata hidup bersama dengan pola personal, basis, unit, tingkat dan komunitas. Wujudnya, tata
peruangan akan dirancang berjenjang sesuai pola pembinaan tersebut. Kelompok-kelompok kegiatan
(bidang pembinaan) akan ditata berjenjang dengan pola dan transisi yang jelas. Sayangnya, hal ini tidak
ditemukan dalam tata peruangan lingkungan binaan STSPY. Kealpaan tersebut begitu mempengaruhi
visi-misi pembinaan STPY kini. Komunitas-komunitas basis yang ada tidak mendapat ruang beraktivitas,
efeknya kegiatan basis pun tidak mencapai sasaran efektif.
Melalui pendekatan psikologi lingkungan dan arsitektur perilaku, tatanan lingkungan yang baik,
yakni lingkungan binaan yang semakin memanusiakan manusia dan memenuhi kebutuhan dasar hidup
manusia, akan tercapai. Idealnya, pencapaian tersebut akan membantu proses pembentukan
kepribadian yang dewasa bagi para frater selaku formandi-nya. Kepribadian yang matang akan menjadi
ladang subur bagi penyemaian spiritualitas hidup sebagaimana yang ditawarkan oleh Seminari Tinggi
Santo Paulus Yogyakarta. Maka, pertanyaannya kemudian adalah bagaimana Bagaimana wujud
rancangan Seminari Tinggi Santo Paulus di Yogyakarta yang mampu mendukung pola pembinaan calon
imam diosesan Keuskupan Agung Semarang (KAS) melalui pengolahan ruang dalam dan ruang luar
dengan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku?
Analisis terhadap Kebutuhan Dasar Perancangan STSPY membawa pada dua kualitas desain
yang diperlukan, yakni jenjang dan simbol. Pendidikan personal dan basis yang menjadi tulang
punggung STSPY memerlukan penataan teritorial lingkungan binaan yang jelas baik secara fungsi,
ruang, geometri maupun pelingkup, dengan simbol sebagai penanda dan area transisi sebagai
pembeda. Kepekaan terhadap ruang dan tanggungjawab yang ditandai oleh tatanan fisik diharapkan
mampu mendukung pola dan bidang pembinaan di STSPY yang menyasar pada terbentuknya
kepribadian yang matang, yang mampu menginternalisasikan proses formatio di STSPY