Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
Prameswari, Serafica Gischa
Subject
Jurnalisme
Datestamp
2015-01-20 09:38:36
Abstract :
Pemberitaan konflik selalu diminati oleh kalangan masyarakat. Konflik akan
menjadi sebuah pemberitaan jika nilai konflik yang terkandung akan tinggi.
Media sebagai alat informasi bagi masyarakat berperan penting dalam memuat
peristiwa konflik. Media dapat menjadikan konflik itu muncul, namun juga dapat
membuat konflik tersebut meredup. Media juga dapat menjadi mediator peristiwa
tersebut, namun juga dapat sebagai pihak pendukung salah satu kubu.
Penelitian ini mengulas bagaimana penerapan jurnalisme damai dalam
pemberitaan konflik Keraton Kasunanan Surakarta pada Surat Kabar Harian
Solopos. Jurnalisme damai merupakan pendekatan jurnalisme yang melihat
konflik sebagai suata masalah yang seharusnya tidak terjadi. Jurnalisme damai
membingkai berita lebih pada memberikan solusi-solusi dan fokus pada akibat
non fisik. Penelitian ini mencoba mengaitkan jurnalisme damai dengan
pemberitaan konflik Keraton, mengingat SKH SOLOPOS sebagai koran lokal
Surakarta. rentang waktu penelitian adalah selama bulan Mei 2012 ? April 2014,
mulai dari Lembaga Dewan Adat tidak mengakui rekonsiliasi perdamaian Paku
Buwono (PB) XIII dengan Tedjowulan. Lembaga Dewan Adat tidak mau
menerima kembalinya Tedjowulan sebagai Mahapatih karena Tedjowulan sudah
membangkang selama delapan tahun.
Pada akhirnya, sebagai media lokal SKH SOLOPOS memenuhi komponen
jurnalisme damai yang dibawa oleh Johan Galtung. Dari sembilan sub unit
analisis yang digunakan, delapan unit analisis dipenuhi kriteria jurnalisme damai.
Akibat konflik dalam pemberitaan jurnalisme damai tidak dipenuhi dalam
pemberitaan. SKH SOLOPOS justru tidak memaparkan akibat konflik baik fisik
maupun non fisik.