Abstract :
Seni yang berkembang di Yogyakarta cukup beragam, mulai dari seni
tradisional, seni modern hingga seni kontemporer. Seni kontemporer mulai
berkembang di Yogyakarta sekitar tahun 1980-an. Hasil karya seni rupa
kontemporer layak untuk bersaing dalam event - event seni yang digelar serta
mendapatkan apresiasi yang baik, hal ini terbukti dengan sering diadakannya
event kesenian yang mengikutsertakan seni rupa kontemporer sebagai bagian dari
acara seni serta event kesenian kontemporer sendiri. Event besar seperti Biennale,
Festival Kesenian Yogyakarta, serta Jogja Java Carnival yang merupakan agenda
tahunan di Yogyakarta. Di Yogyakarta terdapat fasilitas-fasilitas galeri seni atau
tempat pertunjukan untuk memamerkan hasil karya seni rupa kontemporer, dalam
praktik di lapangan pengelolaan dilakukan secara perorangan atau dalam
komunitas. Selama ini seni rupa kontemporer merupakan sebuah dunia yang
eksklusif, seniman dan karya seni rupa kontemporer hanya dikenal oleh
komunitasnya sendiri. Akibatnya masyarakat Yogyakarta kurang mengetahui seni
rupa kontemporer dan tidak mengetahui di Yogyakarta terdapat banyak seniman
bertaraf internasional. Dapat dikatakan berkembangnya seni rupa kontemporer
tidak dibarengi dengan berkembangnya media apresiasi dan ekspresi seni rupa
kontemporer yang ada di Yogyakarta. Kebutuhan akan sarana tersebut dapat
diwadahi dengan adanya Galeri Seni Rupa Kontemporer di Yogyakarta.
. Seni kontemporer merupakan seni aktual yang berkarakter dinamis yang
senantiasa bergerak sesuai dengan tempat, waktu, dan kondisi yang sejalan
perkembangan zaman dan masyarakat, serta bebas dan tanpa ikatan aturan
manapun. Pendekatan perencanaan dan perancangan Galeri Seni Rupa
Kontemporer di Yogyakarta adalah penggambaran kedinamisan seni kontemporer
digambarkan dengan pendekatan filosofi seni kontemporer.
Penggambaran kedinamisan dengan pendekatan filosofi seni kontemporer
diwujudkan dalam suprasegmen arsitektur, seperti bentuk, warna, tekstur, proporsi
dan skala, serta jenis bahan. Galeri Seni Rupa Kontemporer di Yogyakarta terdiri
atas tiga masa bangunan, yaitu bangunan penerima, bangunan pengelola, serta
bangunan ruang pamer. Masing-masing masa memiliki tuntutan unsur karakter
dinamis yang berbeda-beda, bangunan penerima merupakan transformasi bentuk
dari unsur semangat dan bertenaga, bangunan pengelola merupakan transformasi
bentuk dari unsur penyesuaian terhadap lingkungan, sedangkan bangunan ruang
pamer merupakan transformasi bentuk dari unsur pergerakan, semangat dan
bertenaga.