Abstract :
Lapis Aspal Beton (LASTON) merupakan suatu lapisan pada konstruksi jalan
raya, yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang bergradasi menerus,
dicampur, dihampar, dan dipampatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.
Pada saat ini kebutuhan akan jalan raya sebagai penghubung daerah satu kedaerah
lainnya pun semakin meningkat, sehingga diperlukan kualitas lapis perkerasan yang
dapat mendukung kebutuhan tersebut dan memiliki kualitas yang baik. Faktor
penyebab kerusakan jalan antara lain adalah karena proses pemadatan campuran
beraspal dilakukan dilapangan tidak pada temperatur yang tepat, serta dalam proses
pengangkutan campuran kemungkinan terjadi perubahan cuaca, misalnya gerimis,
hujan atau perubahan suhu pada suatu daerah yang relatif dingin sehingga campuran
beraspal tersebut bisa mengalami penurunan suhu. Kondisi ini menyebabkan
campuran beraspal tersebut tidak dapat dihamparkan pada lokasi pembangunan
jalan karena suhu campuran berada dibawah suhu penghamparan dan pemadatan.
Pada penelitian ini yang ditinjau adalah pengaruh variasi suhu saat proses
pencampuran pada campuran beton aspal terhadap karakteristik Marshall yang
meliputi density, Void Filled With Asphalt(VFWA), Void In The Mix (VITM),
stabilitas, flow, dan Marshall Quontient (QM). Penelitian ini menggunakan metode
Marshall yang digunakan pada beberapa variasi suhu pada benda uji. Variasi suhu
saat proses pencampuran, yaitu 140 ºC, 150 ºC, 160 ºC, 170 ºC, 180 ºC, 190 ºC
dengan variasi kadar aspal untuk mendapatkan kadar aspal optimum 5.5%, 6%,
6.5%, 7%.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa variasi suhu pencampuran pada
aspal beton berpengaruh terhadap kekuatan benda uji yang telah diuji dengan
Marshall test. Bisa terlihat jelas pada nilai VFWA, VITM, Stabilitas, dan QM yang
cenderung mempunyai nilai yang selisihnya jauh sehingga menghasilkan grafik
yang cenderung meningkat dan menurun terlihat jelas. Suhu ideal pada proses
pencampuran aspal beton didapat pada suhu antara 150°C - 170°C.