Abstract :
PT. Kota Niaga Raya (PT.KNR) adalah perusahaan yang mengolah Bahan
Olahan Karet (Bokar) menjadi karet jenis Standard Indonesian Rubber (SIR) 20.
Pemesanan Bokar ke 48 supplier dilakukan dengan menelepon supplier secara
acak, beberapa supplier memiliki ketersediaan Bokar dan lainnya tidak. Hal
tersebut mengakibatkan biaya pesan menjadi tinggi karena supplier yang tidak
memiliki ketersediaan Bokar masih ditelepon. Persediaan Bokar pada supplier
tidak selalu ada, jumlah ketersediaan Bokar dan lead time tidak menentu. PT.
KNR membeli Bokar sesuai dengan jumlah ketersediaan Bokar yang dimiliki oleh
supplier. Hal ini menyebabkan kurangnya pasokan Bokar pada bulan Agustus-
September (bulan sepi 1) dan Februari-Maret (bulan sepi 2) karena pada bulan
tersebut karet tidak panen. Hal ini mengakibatkan aktivitas produksi tidak
berjalan normal atau mungkin bisa berhenti.
Tujuan penelitian ini adalah menentukan kapan, berapa, dan bagaimana urutan
menelepon supplier agar aktivitas produksi tetap dapat berjalan dengan
memperhatikan ketersediaan pasokan dari supplier dan memperoleh total biaya
persediaan yang minimum.
Hasil simulasi dengan Microsoft Excel menunjukkan bahwa memesan sejumlah
Q ketika stok ? ROP dengan urutan menelepon supplier berdasarkan peluang
ketersediaan tertinggi (Skenario A), produksi tetap dapat berjalan normal dan
memiliki total biaya persediaan paling minimum yaitu rata-rata biaya per harinya
Rp 602.750 sedangkan sistem aktual adalah Rp 7.673.459. Dapat disimpulkan
bahwa skenario A lebih baik daripada sistem persediaan aktual.