Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
Prakasita, Nicolaus Prama
Subject
Jurnalisme
Datestamp
2015-08-24 09:48:09
Abstract :
Kebebasan pers kerap menjadi utopia bagi insitusi pers pada masa Orde Lama dan
Orde Baru. Pada Orde Reformasi, tantangan instusi pers tidak lagi hanya sekedar
pada kebebasan pers. Tajuk rencana mampu menggambarkan kebebasan pers
suatu institusi pers dan sikap politik yang dimilikinya. Dinamika politik pada
Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi sangat beragam bila meilhat dari
situasi politik nasional kala itu. Dinamika politik yang beragam mampu
menghasilkan sikap politik institusi pers secara beragam. Melihat hubungan
institusi pers dengan institusi sosial lain menjadi sangat menarik karena memiliki
pengaruh dalam menentukan sikap politik persnya. Panjebar Semangat menjadi
media yang unik karena mampu melewati 3 era politik, Orde Lama, Orde Baru,
dan Orde Reformasi yang masih berlangsung hingga saat ini. Sebagai media cetak
tertua yang masih bertahan hingga saat ini, Panjebar Semangat yang
menggunakan bahasa Jawa mampu memberikan ragam data yang sangat beragam.
Penelitian ini menggambarkan dinamika sikap politik pers dalam majalah
Panjebar Semangat pada era Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.
Dengan menggunakan kategorisasi yang telah diuji sebelumnya kebebasan pers
pada tajuk rencana dapat menggambarkan banyak hal, salah satunya sikap politik
pers. Sikap politik pers menggambarkan kepentingan yang diutamakan oleh
institusi pers untuk diberikan pada para pembaca, entah positif atau negatif, kritis
atau tidak, berpihak atau netral. Penelitian ini membaca pada setiap era politik,
Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, memiliki situasi politik yang
mampu membagi era-era tersebut menjadi beberapa bagian. Perkembangan situasi
politik menghasilkan pembagian pada masing-masing era Orde Lama, Orde Baru,
dan Orde Reformasi.
Setelah mencatat dinamika politik pada era Orde Lama, Orde Baru, dan Orde
Reformasi, muncul ragam sikap politik yang disebabkan oleh interaksi sosial
antara institusi pers dengan institusi sosial lainnya. Tidak selamanya interaksi
pemerintah dengan pers mampu memberikan pengaruh yang besar pada kualitas
produk pers. Pada Orde Lama 3 dan 4 contohnya, pengaruh masyarakat lebih
besar dari pengaruh pemerintah pada Panjebar Semangat sehingga menghasilkan
sikap politik yang kontra pada pemerintah.