Abstract :
Framing adalah cara pandang wartawan untuk menyeleksi isu dan menulis
berita. Cara pandang tersebut menuntun wartawan untuk memilih fakta, bagian
mana yang akan ditonjolkan dan dihilangkan serta akan dibawa kemana berita
tersebut (Eriyanto, 2002, h. 66-67).Hal ini tidak jauh berbeda dengan pendapat
Robert N. Entman mengenai framing. Ia mengatakan bahwa framing adalah
proses seleksi realitas, dimana aspek tertentu sebuah peristiwa lebih menonjol
dibanding dengan aspek lain (2002, h. 67-68).
Penelitian ini berfokus pada bagaimana Surat Kabar Harian (SKH) Radar
Timika membingkai kasus pembunuhan Korea Waker yang disusul dengan
pembunuhan berantai dan konflik lainnya yang terjadi di Timika. Dari 201 berita
yang dikumpulkan berdasarkan time frame (12 Agustus hingga 30 September
2014), peneliti membaginya menjadi enam kategori besar sehingga menghasilkan
enam sampel berita yang dianalisis menggunakan framing model Robert N.
Entman. Temuan data juga diperkuat dengan adanya analisis level konteks, yaitu
wawancara dengan wartawan, redaktur, wakil pimpinan redaksi dan pimpinan
redaksi SKH Radar Timika.
Dari keseluruhan analisis yang dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan
bahwa dalam menyikapi, meliput, menulis, mengedit berita, SKH Radar Timika
mengutamakan kehati-hatian agar berita yang diterbitkan tidak menimbulkan konflik susulan. SKH Radar Timika tidak gegabah menyebutkan identitas korban
pembunuhan sebelum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian. Pada awal
memberitakan penemuan jenasah Korea Waker pada 12 Agustus 2014 misalnya,
dalam berita tidak disebutkan bahwa Korea adalah mantan anggota DPRD
Mimika dan Kepala Suku Dani. Dalam judul berita, Korea hanya disebut sebagai
warga (Seorang Warga Ditemukan Tewas di SP 6). Berdasarkan penjelasan
Leonardus selaku redaktur pos kriminal, penggunaan kata ?warga? dalam judul
dan isi berita untuk menghindari reaksi yang berlebihan di masyarakat. Jika SKH
Radar Timika langsung menyebut jabatan Korea, maka dapat dipastikan situasi
kota akan semakin bergejolak.
Sebagian besar pemberitaan juga didominasi dengan pernyataan dari
berbagai tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pejabat pemerintah daerah,
dan berbagai tokoh lainnya.Hal ini bertujuan untuk menenangkan masyarakat,
karena berbagai tokoh tersebut memiliki peranan penting dalam mempersuasif
masyarakat agar tidak mudah terprovokasi. SKH Radar Timika juga fokus
memberitakan dampak-dampak konflik, seperti sekolah terpaksa diliburkan, pasar
sepi, aktivitas pertokoan dan perkantoran dihentikan lebih awal dari biasanya,
jalanan sepi dan masyarakat takut beraktivitas di luar rumah.
Selain mengikuti, memantau dan memberitakan perkembangan konflik,
SKH Radar Timika juga gencar memberitakan berbagai razia penyakit masyarakat
yang dilakukan pihak kepolisian untuk membasmi minuman keras dan senjata
tajam. Penyebab konflik sebagian besar didominasi oleh kedua benda tersebut,
sehingga dalam keadaan kota yang tengah bergejolak, razia terus ditingkatkan di
beberapa titik kota. Hal ini menunjukkan kepedulian Radar Timika dalam
mendukung upaya kepolisian dalam mengamankan kembali situasi Kota Timika.
Dari hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa ideologi dan
kebijakan pemberitaan SKH Radar Timika adalah jurnalisme damai. Dari sekian
banyak pembingkaian berita yang ada, peneliti juga menyimpulkan bahwa
jurnalisme damai adalah bagian dari pembingkaian berita SKH Radar Timika.Dengan demikian, melalui berita-beritanya, SKH Radar Timika mencoba untuk
meredam konflik dan membantu menenangkan masyarakat. Hal ini merupakan
aktivitas yang sudah sangat sering dilakukan SKH Radar Timika, mengingat Kota
Timika rawan terjadi konflik.