DETAIL DOCUMENT
KECENDERUNGAN DEPOLITISASI FUNGSI SOSIAL SELERA DALAM KRITIK TERHADAP DISTINCTION (Studi Tentang Perdebatan di dalam Sosiologi Budaya Kontemporer Mengenai Tesis Pierre Bourdieu Perihal Homologi Struktural Antara Selera dan Kelas Sosial)
Total View This Week0
Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
Savio, Yazalde Manaka
Subject
Media 
Datestamp
2015-08-26 08:22:52 
Abstract :
Studi inimerupakan kajian kepustakaan tentang perdebatan di dalam sosiologi budaya kontemporer mengenai relasi antara selera dan kelas sosial yang muncul sebagai reaksi terhadap tesisPierre Bourdieu mengenai homologi struktural antara selera dan kelas sosial yang dikemukakan dalam magnum opusnya: Distinction A Social Critique of the Judgement of Taste (1984). Perdebatan mengenai homologi struktural ini melibatkan dua perspektif berbeda yakni tesis omnivora-univora dan perspektif Neo-Weberian.Berpijak pada paradigma reproduksi sosialargumentasi yang dibangun studi ini adalahbaik kritik omnivora-univora maupun perspektif Neo-Weberian terhadap Distinction yang didasarkan pada persoalan aktualitas homologi strukturalmembawa implikasi teoritis berupa depolitisasi fungsi sosial selera dalam proses reproduksi struktur kelas. Depolitisasidipahami sebagai kecenderungan teoritis dan metodologis dalam struktur internal kritik terhadap Distinction yang menyebabkan teori tentang selera tidak lagi mempunyai kekuatan eksplanatif terhadap fungsi sosial selera dalam proses reproduksi struktur kelas. Analisis mengidentifikasi bahwa problem teoritis dan metodologis yang fundamental adalah penafsiran dan operasionalisasi atas selera sebagai modal budaya. Dalam hal ini baik tesis omnivora-univora maupun perspektif Neo- Weberian cenderung menginterpretasikan dan mengoperasionalisasikan modal budaya dalam bentuk objektifnya, yaitu modal budaya yang terdapat dalam bentuk material, terutama produk-produk kultural legitim. Selain itu problem teoritis dan metodologis yang secara spesifik terdapat pada perspektif Neo-Weberian adalah konstuksi kelas secara unidimensional sebagai konsekuensi dari upaya kembali ke pemisahan status dan kelas Max Weber. Analisis menunjukkan bahwa operasionalisasi modal budaya berdasarkan bentuk objektif modal budaya maupun konstruksi kelas secara unidimensional tersebut menunjukkan beberapa kelemahan. Pertama, menafsirkanteori selera Bourdieu sebagai teori tentang bagaimana kelas dominan menggunakan produkproduk legitim untuk membangun batas-batas kelas. Karena itu tidak ditemukannya kelas dominan yang hanya mengkonsumsi produk-produk legitim ditafsirkan sebagai perubahan ke arah omnivora-univora (pada tesis omnivoraunivora), dan tidak eksisnya kelas dominan yang berupaya mendefinisikan selera legitim sehingga teori Bourdieu tentang pertarungan simbolik dianggap tidak relevan (pada perspektif Neo-Weberian).Kedua, tidak dapat menangkap habitussebagai suatu sistem mekanisme yang mengorientasikan selera. Ketiga, unidimensionalitas kelas perspektif Neo-Weberian tidak mampu menangkap variasi dan perbedaan-perbedaan selera di antara pecahan-pecahan atau fraksifraksi kelas yang menandakan selera sebagai arena pertarungan simbolik kelas. Studi ini menyimpulkan bahwa problem teoritis dan metodologis dalam struktur internal kritik terhadap Distinction yang menyebabkan kecenderungan depolitisasi adalah operasionalisasi modal budaya yang tidak mampu menangkap habitus kelas dan unidimensionalitas konstruksi kelas yang tidak mampu menangkap variasi selera di antara fraksi kelas. 
Institution Info

Universitas Atma Jaya Yogyakarta