Abstract :
Studi inimerupakan kajian kepustakaan tentang perdebatan di dalam sosiologi
budaya kontemporer mengenai relasi antara selera dan kelas sosial yang muncul
sebagai reaksi terhadap tesisPierre Bourdieu mengenai homologi struktural antara
selera dan kelas sosial yang dikemukakan dalam magnum opusnya: Distinction A
Social Critique of the Judgement of Taste (1984). Perdebatan mengenai homologi
struktural ini melibatkan dua perspektif berbeda yakni tesis omnivora-univora dan
perspektif Neo-Weberian.Berpijak pada paradigma reproduksi sosialargumentasi
yang dibangun studi ini adalahbaik kritik omnivora-univora maupun perspektif
Neo-Weberian terhadap Distinction yang didasarkan pada persoalan aktualitas
homologi strukturalmembawa implikasi teoritis berupa depolitisasi fungsi sosial
selera dalam proses reproduksi struktur kelas. Depolitisasidipahami sebagai
kecenderungan teoritis dan metodologis dalam struktur internal kritik terhadap
Distinction yang menyebabkan teori tentang selera tidak lagi mempunyai
kekuatan eksplanatif terhadap fungsi sosial selera dalam proses reproduksi
struktur kelas.
Analisis mengidentifikasi bahwa problem teoritis dan metodologis yang
fundamental adalah penafsiran dan operasionalisasi atas selera sebagai modal
budaya. Dalam hal ini baik tesis omnivora-univora maupun perspektif Neo-
Weberian cenderung menginterpretasikan dan mengoperasionalisasikan modal
budaya dalam bentuk objektifnya, yaitu modal budaya yang terdapat dalam bentuk
material, terutama produk-produk kultural legitim. Selain itu problem teoritis dan
metodologis yang secara spesifik terdapat pada perspektif Neo-Weberian adalah
konstuksi kelas secara unidimensional sebagai konsekuensi dari upaya kembali ke
pemisahan status dan kelas Max Weber.
Analisis menunjukkan bahwa operasionalisasi modal budaya berdasarkan
bentuk objektif modal budaya maupun konstruksi kelas secara unidimensional
tersebut menunjukkan beberapa kelemahan. Pertama, menafsirkanteori selera
Bourdieu sebagai teori tentang bagaimana kelas dominan menggunakan produkproduk
legitim untuk membangun batas-batas kelas. Karena itu tidak
ditemukannya kelas dominan yang hanya mengkonsumsi produk-produk legitim
ditafsirkan sebagai perubahan ke arah omnivora-univora (pada tesis omnivoraunivora),
dan tidak eksisnya kelas dominan yang berupaya mendefinisikan selera
legitim sehingga teori Bourdieu tentang pertarungan simbolik dianggap tidak
relevan (pada perspektif Neo-Weberian).Kedua, tidak dapat menangkap
habitussebagai suatu sistem mekanisme yang mengorientasikan selera. Ketiga,
unidimensionalitas kelas perspektif Neo-Weberian tidak mampu menangkap
variasi dan perbedaan-perbedaan selera di antara pecahan-pecahan atau fraksifraksi
kelas yang menandakan selera sebagai arena pertarungan simbolik kelas.
Studi ini menyimpulkan bahwa problem teoritis dan metodologis dalam
struktur internal kritik terhadap Distinction yang menyebabkan kecenderungan
depolitisasi adalah operasionalisasi modal budaya yang tidak mampu menangkap
habitus kelas dan unidimensionalitas konstruksi kelas yang tidak mampu
menangkap variasi selera di antara fraksi kelas.