Institusion
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Author
LEKITOO, OTGES BERHAN RODAS
Subject
Transportasi
Datestamp
2015-11-18 09:09:45
Abstract :
Simpang lima Pojok Beteng Kulon merupakan simpang besar yang penataan
desainnya tidak cukup baik, karena pada beberapa pendekat tidak dapat saling
melihat arah arus lalu lintas. Pendekat pojok beteng tidak dapat dilihat langsung
oleh pendekat utara. Hal ini dapat memungkinkan kendaraan yang berasal dari
pendekat utara akan sering terjadi konflik dengan kendaraan yang berasal dari
pendekat pojok beteng. Selain itu simpang besar seharusnya didukung oleh
kapasitas lengan yang memiliki lebar pendekat yang memadai yaitu dapat
menampung kendaraan yang menggunakan jalan tersebut. Namun, tidak dengan
simpang lima Pojok Beteng Kulon pada lengan timur, barat, dan selatan yang
memiliki panjang antrian yang cukup panjang. Hal ini bahkan menyebabkan
beberapa kendaraan untuk menuju ke lengan yang lain harus mengalami 2 (dua)
kali lampu merah.
Penelitian diawali dengan melakukan pengukuran untuk mengambil data
lebar pendekat. Data yang diambil adalah semua jenis kendaraan yang melewati
simpang baik kendaraan yang belok kiri, lurus, maupun belok kanan, serta
besarnya panjang antrian. Penelitian dilakukan selama 2 (dua) yaitu hari Jumat 19
September 2014, Rabu 24 September 2014. Waktu pengamatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pagi pukul 06.00-08.00 WIB, siang pukul 12.00-14.00
WIB, sore pukul 16.00-18.00 WIB. Data-data yang diperoleh di lapangan
kemudian diolah menggunakan metode MKJI 1997.
Dari analisis data yang diperoleh dapat diketahui bahwa tundaan yang
terjadi di simpang Lima Bersinyal Pojok Beteng Kulon, untuk masing-masing
pendekat utara, timur, selatan, dan barat diperoleh nilai tundaan simpang rata-rata
57,77 stop/smp dan panjang antrian rata-rata 144,635 meter. Berdasarkan data
diatas solusi perbaikan simpang yang paling cocok adalah desain geometri jalan
disertai desain waktu hijau yang menghasilkan tundaan rata-rata simpang 34,86
dan panjang antrian rata-rata 55,69 meter.