Abstract :
Kondisi yang dialami Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pembangunan jangka
panjang dan menengah perlu memperhitungkan ketersediaan dan kualitas air tanah sebagai
penopang kehidupan daerah kota dan sekitarnya. Pengambilan air tanah secara berlebihan
atau lebih besar dari debit pengisian akan mengurangi dan menurunkan muka air tanah. Oleh
sebab itu untuk mengisi kembali air tanah dibutuhkan sumur resapan agar keadaan muka air
tanah tetap terisi kembali pada saat hujan.
Penelitian mengenai pengaruh ketinggian muka air di dalam sumur resapan terhadap
debit resapan (Qresapan) menggunakan lima lubang sumur resapan dengan kedalaman 90 cm,
180 cm, 270 cm, 360 cm dan 450 cm dilakukan untuk menganalisis pengaruh ketinggian
muka air di dalam sumur resapan terhadap Qresapan. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil
perhitungan Qresapan pada penurunan 10 cm dari permukaan sumur, untuk sumur resapan 90
cm, 180 cm, 270 cm, 360 cm dan 450 cm adalah 53,49 cm³/det, 85,75 cm³/det, 113,77
cm³/det, 130,36 cm³/det dan 185,48 cm³/det. Dimana Qresapan yang diperoleh semakin besar
pada sumur yang dalam.
Dari analisis data lapangan dan data laboratorium, dihasilkan perbedaan diantara
kecepatan peresapan dengan kadar air tanah dan permeabilitas tanah. Perbedaan itu terlihat
pada kadar air tanah dan permeabilitas tanah yang diperoleh dari hasil penelitian laboratorium
mempunyai persentase tinggi dan permeabilitas yang sedang pada sumur yang dalam
sedangkan kecepatan peresapan lapangan semakin cepat pada sumur yang dalam. Dengan
demikian, dilihat dari besarnya Qresapan yang diperoleh kadar air tanah dan permeabilitas tanah
tidak begitu mempengaruhi terhadap besarnya Qresapan, tetapi dalam hal ini yang
mempengaruhi adalah ketinggian muka air di dalam sumur resapan. Di tambah lagi dengan
Keefektifan sumur resapan yang ditinjau dari kapasitas dan biaya pembuatan sumur resapan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan sumur resapan yang dalam lebih efektif dari pada sumur
resapan yang dangkal.