Abstract :
Laporan Bencana Asia Pasifik 2010 menyatakan bahwa masyarakat Asia Pasifik 4 kali lebih
rentan terkena dampak bencana alam dibanding masyarakat wilayah Afrika dan 25 kali lebih
rendah daripada Amerika Utara dan Eropa. Laporan PBB tersebut memperkirakan bahwa lebih
dari 18 juta jiwa terkena dampak bencana alam di Indonesia dari tahun 1980 sampai 2009. Dari
laporan yang sama Indonesia mendapatkan peringkat ke 4 sebagai salah satu Negara yang paling
rentan terkena dampak bencana alam di Asia Pasifik dari tahun 1980-2009. Laporan Penilaian
Global Tahun 2009 pada Reduksi Resiko Bencana juga memberikan peringkat yang tinggi untuk
Indonesia pada level pengaruh bencana terhadap manusia peringkat ke 3 dari 153 untuk gempa
bumi dan 1 dari 256 untuk tsunami. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar
mengenai bencana alam yang ada di sekitar kita maka dibutuhkan suatu wadah untuk
memberikan informasi. Wadah informasi dapat berupa sekolah, pameran ataupun seminar,
namun terkadang masyarakat kurang tertarik untuk mengikuti dikarenakan bersifat formal dan
cenderung mahal ataupun tidak sedikit uang dikeluarkan untuk mendapatkan informasi. Museum
dan Pusat Pelatihan Bencana di Yogyakarta ini diharapkan menjadi alternatif untuk memberikan
informasi kepada masyarakat mengenai bencana alam yang ada disekitar kita dengan tidak oerlu
banyak mengeluarkan biaya. Selain sebagai wadah untuk memberikan informasi kepada
masyarakat sekitar, Museum dan Pusat Pelatihan Bencana di Yogyakarta harus mampu
menampilkan citra, kualitas serta ekspresi dari sifat/karakterbencana alam itu sendiri. Untuk
mendapatkan ekspresi atau karakter tersebut dilakukan dengan teknik pendekatan dari
karakter/ciri bencana alam itu sendiri. Selain menerapkan konsep karakter/ciri bencana, konsep
edukatif, rekreatif, serta komunikatif digunakan untuk merangsang masyarakat agar datang
melihat kedalam museum. Penilaian orang mengenai museum sebagai hal membosankan
merupakan sesuatu yang harus dihilangkan dengan menerapkan konsep komunikatif, edukatif,
serta rekreatif. Beberapa proses pendekatan diatas diterapkan pada elemen-elemen arsitektural
seperti skala, bentuk, tekstur, warna serta beberapa material-material.