Abstract :
Angkutan umum penumpang merupakan penyedia jasa angkutan umum yang
berfungsi untuk memberikan pelayanan kenyamanan, kemudahan, dan rasa aman
kepada pengguna jasa angkutan umum di dalam melakukan operasi perjalanan.
Dengan demikain untuk membahas suatu angkutan umum, tidak terlepas dari
tersedianya fasilitas angkutan umum dan juga pengguna jasa angkutan untuk
melakukan dari satu tempat ke berbagai arah tujuannya.Tujuan dari penelitian ini
adalah Mengevaluasi pengaruh sistem kinerja jasa angkutan umum di perkotaan
Atambua dan Memberi masukan pada tingkat kualitas pelayanan jasa angkutan
umum di kota Atambua. Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan masukan bagi
Pemerintah Kota Atambua dalam mengambil kebijakan mengenai jasa angkutan
umum di Kota Atambua, meningkatkan serta merubah pola kinerja sistem
pengoperasian di Kota Atambua, dan meningkatkan pelayanan angkutan umum di
kota Atambua. Pada penelitian ini harus diperhatikan parameter evaluasi seperti rute
perjalanan, jumlah penumpang, jumlah armada, kecepatan perjalanan, load factor,
headway dan frekuensi. Penelitian ini juga dilakukan dengan beberapa metode
penelitian yaitu metode observasi, metode wawancara, metode studi pustaka.
Pengumpulan data penilitian meliputi data primer dan data sekunder.
Hasil penelitian pada angkutan perkotaan di Kabupaten Belu ini menunjukan
bahwa: jumlah penumpang diperoleh rata-rata adalah sebesar 48 penumpang. Nilai
loadfactor rata-rata sebesar 46,98 %, angka ini masih dibawah Standar Pemerintah
yaitu sebesar 70%. Kecepatan rata-rata adalah 15,9 km/jm, ini melebihi dari Standar
Pemerintah yaitu 10-12 km/jm. Headway rata-rata sebesar 13,68 menit, angka ini
sudah sesuai dengan Standar Pemerintah yaitu 10-20 menit. Untuk jumlah armada
pada trayek ini tersedia sebanyak 17 angkot dan mengalami kelebihan armada yaitu
sebanyak 10 angkot
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kinerja angkutan kota
Kabupaten Belu belum baik karena ada beberapa kriteria yang sudah memenuhi
standar seperti headway dan yang belum memeuhi standar seperti load factor,
kecepatan rata-rata dan jumlah armada. Dapat disarankan agar Pemerintah
Kabupaten Belu dapat memperhatikan dan mengevaluasi lagi kinerja angkutan kota
di Kabupaten Belu. Serta mengatur ketepatan jadwal dan waktu keberangkatan
angkot tersebut dan menonaktifkan angkot dengan tidak memperpanjang ijin trayek
angkot yang sudah tidak layak pakai lagi.