Abstract :
Latar Belakang : Prevalensi tindakan operasi mengalami peningkatan yang cukup
signifikan. Terdapat 1.920 pasien yang menjalani tindakan operasi pada tahun 2017 di
Ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Wates Kulonprogo. Tindakan operasi atau
pembedahan seringkali menimbulkan respon psikologis bagi pasien berupa kecemasan,
3 dari 5 pasien menyatakan cemas sebelum tindakan operasi dilakukan. Kecemasan
pasien pre operasi dapat timbul akibat kurangnya komunikasi terapeutik perawat.
Komunikasi yang disampaikan oleh perawat dengan menggunakan teknik komunikasi
terapeutik dapat membantu mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalani
operasi.
Tujuan : Mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat
kecemasan pasien pre operasi di Ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Wates
Kulonprogo.
Metode penelitian : Rancangan penelitian ini menggunakan metode cross sectional.
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien pre operasi berusia 17-65 yang diambil
menggunakan metode accidental sampling berjumlah 114 responden. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Uji statistik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Koefisien Kontingensi (C).
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar dari responden
berusia 26-35 tahun (dewasa awal) (35,1%) dan berjenis kelamin perempuan (75,4%),
mayoritas pendidikan terakhir responden adalah SMA (40,4%). Terdapat 89 responden
yang menilai baik komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat (78,1%) dan 56
responden (49,1%) dengan tingkat kecemasan berat. Hasil analisa korelasi Koefisien
Kontingensi (C) diperoleh p-value <0,05 (0,000) dengan koefisien korelasi sebesar
0,445.
Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat
dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD
Wates Kulon Progo.
Kata Kunci : Kecemasan, Komunikasi Terapeutik, Pre Operasi