Abstract :
Latar Belakang : Riskesdas 2013 menunjukkan sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi penyakit Diabetes Mellitus diatas prevalensi nasional. Provinsi DIY
merupakan salah satu provinsi dengan tingkat prevalensi penyakit DM tinggi yaitu 3,0 %. Hiperglikemia merupakan tanda dari adanya penyakit DM. Aktivitas fisik
merupakan salah satu program penatalaksanaan pada pasien hiperglikemia. Aktivitas fisik berperan dalam mengontrol atau mengendalikan gula darah tubuh dengan cara
mengubah glukosa menjadi energi.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan hiperglikemia
pada kyai dan guru di pondok pesantren DIY.
Metode : Penelitian adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan Cross
Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah guru di pondok pesantren DIY yang
berjumlah 579 orang. Jumlah sampel minimal yang diperoleh sebanyak 184
responden dengan teknik pengambilan sampel probability proportional to size (PPS).
Data kadar glukosa darah menggunakan alat Easy Touch dan data aktivitas fisik
menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionaire (IPAQ).
Analisis data berupa distribusi frekuensi, uji beda rata-rata (T-test) dan uji Chi
Square dilakukan dengan menggunakan software SPSS.
Hasil : Berdasarkan uji T-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan glukosa darah
antara kelompok aktivitas fisik kurang dengan kelompok aktivitas cukup tetapi
perbedaan tersebut tidak signifikan dengan nilai t = 0,446 dan p-value = 0,656 serta
mean different = 3,127, serta hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat
hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan hiperglikemia dengan nilai p-value
= 0,969.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan
hiperglikemia.
Kata Kunci : Aktivitas Fisik, Hiperglikemia, Kyai, Guru, Pondok Pesantren