Abstract :
Latar Belakang : Hiperglikemia merupakan suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa di dalam darah melebihi batas normal yang menjadi
salah satu tanda khas penyakit Diabetes Melitus (DM). Diabetes Melitus diartikan
sebagai penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup
insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang
dihasilkan. Serat dari makanan diperkirakan mampu menurunkan penyerapan
glukosa intestinal, sehingga mampu mencegah terjadinya kenaikan glukosa postpandrial
secara
tiba-tiba.
Tujuan:Meneliti hubungan konsumsi serat dan hiperglikemia pada kyai dan guru di Pondok Pesantren Daerah Istimewa Yogyakarta.
Metode
: Jenis penelitian adalah penelitian observasional analitik dengan
rancangan Cross Sectional. Populasi dalam Penelitian ini adalah guru di Pondok
Pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berjumlah 579 orang. Jumlah
sampel minimal yang diperoleh sebanyak 119 orang dengan teknik pengambilan
sampel probability porpotional to size (PPS) yang dilakukan pada bulan Juli 2017.
Data konsumsi serat menggunakan Semi Quantitative Food Frequency
Questionaire (SQ-FFQ) dan untuk data kadar gula darah sewaktu menggunakan
Easy Touch Check. Analisis data menggunakan uji beda rata-rata (T-Test) dan uji
Chi Square dilakukan dengan software SPSS.
Hasil : Berdasarkan Uji T-test menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata kadar
glukosa darah sewaktu pada kelompok konsumsi serat kurang dengan kelompok
konsumsi serat cukup, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan dengan nilai t-
value = 0,146 dan p- value =0,88 serta mean diferent = 1.83. Serta hasil uji chi
square tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi serat dengan
hiperglikemia dengan p-value = 0,22 (? > 0,05).
Kesimpulan : Tidak ada hubungan yang signifikan antara konsumsi serat dengan
hiperglikemia pada kyai dan guru di Pondok Pesantren DIY.
Kata Kunci : Konsumsi serat, Hiperglikemia, Pondok Pesantren