Abstract :
Latar Belakang : Tingginya kadar glukosa darah dapat menjadi indikator terjadinya
penyakit diabetes melitus. WHO memprediksi Indonesia pada tahun 2035 akan
mengalami peningkatan jumlah penderita diabetes sebesar 71%. Tingginya konsumsi
karbohidrat sederhana dapat menjadi faktor risiko terjadinya gangguan homeostasis
glukosa dan resistensi insulin. DIY menjadi provinsi tertinggi yang mengkonsumsi bahan
makanan kelompok gula.
Tujuan : Menganalisis hubungan asupan karbohidrat sederhana dengan kejadian
hiperglikemia pada kyai dan guru di pondok pesantren DIY.
Metode : Jenis penelitian adalah penelitian survei analitik dengan rancangan crosssectional.
Penelitian ini dilakukan di pondok pesantren DIY pada bulan Juli-Agustus
2017. Populasi penelitian ini adalah seluruh kyai dan guru di pondok pesantren DIY yang
berjumlah 579 responden. Jumlah sampel minimal yang diperoleh 184 responden. Data
asupan menggunakan SQ-FFQ dan untuk kadar glukosa sewaktu menggunakan Easy
Touch. Analisis data menggunakan uji Chi Square.
Hasil : Tidak ada hubungan asupan karbohidrat sederhana (monosakarida, disakarida)
dengan kejadian hiperglikemia pada kyai dan guru di pondok pesantren DIY. Ada
hubungan karakteristik responden (usia, pendidikan dan pekerjaan) dengan hiperglikemia.
Tidak ada hubungan karakteristik responden (jenis kelamin dan riwayat DM) dengan
hiperglikemia.
Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara karbohidrat sederhana (monosakarida,
disakarida) dan karakteristik responden (jenis kelamin dan riwayat DM) dengan kejadian
hiperglikemia pada kyai dan guru di pondok pesantren DIY. Ada hubungan karakeristik
responden (usia, pendidikan dan pekerjaan) dengan kejadian hiperglikemia pada kyai dan
guru di pondok pesantren DIY.
Kata Kunci : Asupan Karbohidrat Sederhana, Hiperglikemia