Abstract :
Latar Belakang : Berdasarkan data Riskesdas prevalesni DM di Indonesia mencapai 2.1% pada tahun 2013, hal ini mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2007. Provinsi DIY merupakan salah satu provinsi dengan tingkat prevalensi penyakit DM yang tinggi yaitu 3,0 %. Terapi nutrisi merupakan salah satu dari empat pilar penatalaksanaan DM, seperti magnesium dan protein.
Magnesium berperan penting dalam homeostatis glukosa dan kinerja insulin,sedangkan protein yang berlebihan dapat mempengaruhi kada glukosa darah.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan asupan magnesium dan protein dengan
kejadan hiperglikemia pada Kyai dan guru di Pondok Pesantren DY
Metode : Penelitian adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan Cross sectionall. Populasi dalam penelitian ini adalah kyai dan guru di pondok
pesantren DIY yang berjumlah 579 orang. Jumlah sampel minimal yang diperoleh sebanyak 95 responden dengan teknik pengambilan sampel probability proportional to size (PPS). Data Asupan magnesium dan protein menggunakan
kuesioner Semi Quantitatif Food Frekuensi (SQ-FFQ). Analisis data berupa distribusi frekuensi, uji chi square dan uji kolareasi spearman dilakukan dengan
menggunakan software SPSS
Hasil Penelitian : Asupan magnesium pada perempuan tidak berhubungan dengan kejadian hiperglikemia (p value = 0.118, r = -0.152) asupan magnesium pada laki
laki tidak berhubungan dengan kejadian hiperglikemia (p value = 0.178, r = 0.125)
dan asupan protein tidak berhubungan dengan kejadian hiperglikemia (p value =
0.366, r = 0.018). Variabel lain yang di analisis adalah usia (p value = 0.000), Jenis
Kelamin (p value = 0.131), pendidikan (p value = 0.001) dan pekerjaan (p value =
0.000).
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan magnesium,protein, jenis kelamin dengan kejadian hiperglikemia, ada hubungan bermakna antara usia, pendidikan dan pekerjaan dengan kejadiah hiperglikemia.
Kata kunci : Asupan magnesium, protein, hiperglikemia