Abstract :
Latar belakang: Pada usia lanjut akan terjadi kemunduran fungsi organ tubuh.
Masalah kesehatan paling banyak pada lansia adalah penyakit hipertensi. Hasil
Riskesdas 2013 menunjukkan tingginya prevalensi hipertensi di Indonesia yaitu
25,8% dan paling tinggi terjadi pada usia lanjut. Prevalensi hipertensi Provinsi
DIY 25,7% dan merupakan provinsi dengan lansia tertinggi. Faktor risiko
minuman berkafein seperti kopi dan teh berkontribusi meningkatkan tekanan
darah. Kafein diketahui dapat meningkatkan tekanan darah jika dikonsumsi
dengan berlebihan dan dalam jangka waktu yang panjang dapat berisiko hipertensi
Tujuan: Mengetahui apakah ada Hubungan Konsumsi Kopi dan Teh dengan
Kejadia Hipertensi Pada Lansia di Kabupaten Bantul.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jenis
rancangan cross sectional. Sampel dipilih sebanyak 163 orang menggunakan
teknik cluster random sampling yang berdasarkan pembagian tiga wilayah barat
(pesisir), tengah (kota), dan dataran tinggi (piyungan) sesuai kriteria inklusi dan
eksklusi. Analisis menggunakan uji chi-Square dengan dibantu SPSS versi 16.0
Hasil: Sebanyak 47 orang (28,8%) memiliki kebiasaan konsumsi kopi dan
menunjukkan ada hubungan bermakna antara frekuensi minum kopi lebih dengan
hipertensi yaitu p=0,023 tetapi tidak menunjukkan hubungan bermakna pada jenis
(p=0,057) dan jumlah kopi (p=0,052). Sampel yang memiliki kebiasaan konsumsi
teh sebanyak 150 orang (92%) dan menunjukkan konsumsi jenis teh hitam dengan
jumlah dan frekuensi konsumsi teh lebih memiliki hubungan bermakna dengan
kejadian hipertensi dengan masing-masing nilai p= 0,001, p= 0,008, dan p=0,001.
Kesimpulan: Ada hubungan bermakna antara frekuensi konsumsi kopi serta
kebiasaan konsumsi teh meliputi jenis, jumlah, dan frekuensi dengan kejadian
hipertensi pada lansia di Kabupaten Bantul.
Kata Kunci: Hipertensi, Lansia, Konsumsi Kopi, Konsumsi Teh