Abstract :
Latar Belakang : Saat ini, jumlah lansia tertinggi se Indonesia terdapat di DI
Yogyakarta dengan presentase sebesar 13,05%. Hipertensi merupakan salah
satu PTM yang paling sering diderita oleh lansia yang jika tidak dikendalikan
akan menyebabkan serangan jantung, pembesaran jantung dan akhirnya gagal
jantung. Menurut WHO, faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya
hipertensi adalah konsumsi makanan yang mengandung garam dan lemak,
kurang mengkonsumsi sayur dan buah, mengkonsumsi alkohol, kurangnya
aktifitas fisik dan olahraga, dan depresi. Depresi dapat meningkatkan produksi
kortisol dan asupan makan dapat meningkatkan resiko arterosklerosis.
Tujuan Penelitian : Mengetahui apakah ada hubungan tingkat depresi dan
asupan makan berlebih dengan hipertensi pada lansia di kabupaten Bantul.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional,
teknik pengambilan sampel Cluster Random Sampling dengan
mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara menggunakan instrumen geriatric depression scale (GDS)
dan semi quantitative food frequency quistionaire (SQ-FFQ) dengan analisis
data menggunakan nutrisurvey dan SPSS.
Hasil Penelitian : Tidak ada hubungan antara tingkat depresi dengan kejadian
hipertensi pada lansia (P=0,583), Tidak ada hubungan antara asupan protein
(P=0,796) dan karbohidrat (P=0,942) dengan kejadian hipertensi pada lansia,
Ada hubungan asupan lemak dengan kejadian hipertensi (P=0,009).
Kesimpulan : Tidak ada Ada Hubungan antara tingkat depresi, asupan protein
dan karbohidrat dengan kejadian hipertensi namun ada hubungan antara asupan
lemak dengan Kejadian hipertensi pada lansia di Kabupaten Bantul Pada Tahun
2018.
Kata Kunci : Lansia, Hipertensi, Depresi, Asupan Makan.