Abstract :
Latar Belakang : Gagal ginjal kronik di seluruh dunia terdapat 500 juta orang
dan sekitar 1,5 juta orang menjalani terapi hemodialisa, sedangkan di indonesia
didapatkan hasil survey PERNEFRI penderita GGK sebanyak 30,7 juta
penduduk. Pasien dengan gagal ginjal kronik mempunyai karakteristik bersifat
menetap dan tidak bisa disembuhkan sehingga memerlukan pengobatan berupa
trasplantasi ginjal, dialisis peritoneal, rawat jalan dan hemodialisa. Hemodialisa
adalah suatu bentuk tindakan pertolongan dengan menggunakan alat dializer
untuk menyaring dan membuang sisa produk metabolisme toksik yang seharusnya
dibuang oleh ginjal. Efek samping yang ditimbulkan dari terapi hemodialisa yakni
emboli paru, hipertensi, kram otot, kulit gatal-gatal, sakit kepala, frustasi, depresi,
gangguan gambaran diri, ketidakberdayaan, rasa cemas dan insomnia.
Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan insomnia pada pasien
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Panembahan Senopati
Bantul.
Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi dengan
menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 64 responden dengan tehnik purposive sampling.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggukan uji kendal
tau.
Hasil : Penelitian ini menunjukan mayoritas responden berusia ? 40 tahun
sebanyak 52 (81,3%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 37 (57,8%), lama
hemodialisa 1-3 tahun sebanyak 35 (54,7%), dan mayoritas responden yang
mengalami insomnia sedang dengan kecemasan minimal sebanyak 18 (52,9%).
Berdasarkan uji statistik Kendal Tau menunjukan nilai p value sebesar 0,334
dengan nilai r hitung 0,113, yang artinya Ha diterima dan H0 ditolak.
Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan
insomnia pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD
Panembahan Senopati Bantul.
Kata Kunci : Tingkat Kecemasan, Insomnia, Gagal Ginjal Kronik.