Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pendidikan
rohani bagi orang dengan gangguan jiwa dalam proses kesembuhan,faktor
pendukung dan penghambat serta bagaimana keadaan ODGJ setelah
mengikuti pendidikan rohani.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif
deskriptif. Subyek penelitian adalah ketua umum SHG kesehatan jiwa
tingkat Desa Argodadi, ketua kelompok SHG kesehatan jiwa pada
kelompok 1 dan kelompok 2, pembina kesehatan dari Puskesmas
Kecamatan Sedayu, Kyai/ustadz bidang kerohanian, dan pendamping
ODGJ. Teknik pengumpulan data yaitu Observasi, wawancara dan
dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dengan cara reduksi
data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Serta Uji keabsahan data
dilakukan dengan triangulasi.
Hasil penelitian penerapan pendidikan rohani bagi orang dengan
gangguan jiwa dalam proses kesembuhan (Studi kasus di Self Help Group
Kesehatan jiwa Desa Argodadi Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul
Yogyakarta) menunjukan hasil bahwa 1) Penerapan pendidikan rohani
bagi ODGJ di Desa Argodadi dalam proses kesembuhan yaitu dengan
melaksanakan berbagai macam kegiatan yang dilakukan satu kali dalam
satu bulan yaitu, Menerapkan sholawatan bersama, Pengajian, Mujahadah/
Dzikir, Asmaul Husna dan Siraman rohani. 2) Keadaan ODGJ setelah
mengikuti pendidikan rohani menunjukan bahwa adanya ketenangan jiwa,
optimis dan punya semangat untuk sembuh. Walaupun perubahan yang
terjadi masih didominasi pengobatan luar. 3) Faktor pendukung yang
terjadi dalam penerapan pendidikan rohani yaitu: adanya biaya kontribusi
dari dana Desa dalam setiap pelaksanaan kegiatan, pemberian fasilitas
kebijakan gratisnya biaya pengobatan, rujukan, homevisit dari Puskesmas,
Adanya kesadaran dari setiap keluarga ODGJ dalam mengikuti kegiatan
tersebut, digratiskannya seluruh pembiayaan kegiatan seperti adanya
rekreasi, outbone, dan mau mengadakan wisata religi. Pendukung lainya
yaitu stigma masyarakat yang menurun dan adanya komunitas pemerhati
seperti Kelompok SHG Kesehatan jiwa ini. Sedangkan faktor
penghambatnya yaitu: Terkadang masih adanya peserta yang tidak
berangkat saat pertemuan, masih adanya rasa malu dari keluarganya untuk
mengikuti kegiatan. Sudah tidak mau keikutsertaanya bagi anggota yang
sudah sembuh dikarenakan malu terhadap masalalunya, dan yang terakhir
terkadang adanya bentrok jadwal yang mengakibatkan kegiatan diliburkan.
Kata Kunci: Penerapan pendidikan rohani, Orang dengan gangguan
jiwa, Proses kesembuhan