Abstract :
Latar belakang : Hiperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah dalam
tubuh mengalami peningkatan hingga melebibi batas normal dan menjadi salah satu
ciri khas dari penyakit diabetes melitus. Provinsi dengan prevalensi tertinggi di
Indonesia adalah DKI Jakarta sebesar 3,4%, sedangkan Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta sebesar 3,1 % .
Minuman manis adalah merupakan air
dengan tambahan
gula sederhana dalam proses produksi yang dapat menambah kandungan energi
tetapi mengandung sedikit zat gizi lain. Terlalu banyak mengonsumsi minuman
manis dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Hal ini karena ntlnuman manis
memiliki kadar gula tinggi sebingga berdampak pada peningkatan glukosa darah
(hiperglikemia). Tujuan penelitian : Untuk mengetahui adanya bubungan antara
konsumsi minuman manis dengan biperglikemia pada kyai dan guru di pondok
pesantren Daerah Istimewa Y ogyakarta. Metode : Metode penelitian yang
digunakan adalah Analisis Data Sekunder (ADS) dengan rancangan penelitian
cross sectional. Populasi penelitian ini berjumiah 7.250 dengan sampel yang
diambil sejumlah 195. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain data
karakteristik responden, data kadar glukosa darah puasa responden dan data
kebiasaan konsumsi minuman manis responden. Basil :
Analisis chi-square
menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis tidak berhubungan dengan kejadian
hiperglikemia pada kyai dan guru di pondok pesantren Daerah Istimewa
Yogyakarta (p-value = 0,551). Jumlah responden dengan konsumsi minuman manis
tinggi dan masuk dalam kategori tidak hiperglikemia lebih banyak dibandingkan
dengan jumlah responden dalam kategori biperglikemia. Kesimpulan : Konsumsi
minuman manis tidak berbubungan dengan kejadian biperglikemia pada Kyai dan
Guru di Pondok Pesantren Daerah Istimewa Y ogyakarta.
Kata kunci : biperglikemia, ntlnuman manis, kyai, guru, pondok pesantren