Abstract :
CV Putra Jaya atau Putra Jaya merupakan sebuah perusahaan yang terletak di daerah Antapani Jawa Barat. Perusahaan ini bergerak dibidang distribusi dan produksi kayu. Permasalahan yang terjadi di Putra Jaya adalah bagaimana proses pengadaan kayu yang dibeli oleh kepala operasional terlalu besar sementara sisa digudang masih cukup banyak hal ini menyebabkan penumpukan kayu secara berlebihan selain penumpukan kayu yang terus ditumpuk tentunya akan terjadi kerusakan ataupun harus dimusnahkan secara teknis tentu saja hal ini akan menyebabkan kerugian materil bagi perusahaan itu sendiri. Setidaknya berdasarkan data persediaan kayu pada tahun 2017-2018 dari 16000-18500 unit kayu yang masuk ke gudang setiap tahunnya sekitar kurang lebih 2000-2500 unit tersisa di gudang. Penumpukan kayu yang terjadi dikarenakan kepala gudang dalaam membuat laporan pengadaan masih mengandalkan intuisi dan data-data lama tanpa memikirkan kapasitas serta kayu yang tersisa di gudang. Berdasarkan permasalahan yang ada di Putra Jaya maka untuk mengatasi permasalahan, maka dibutuhkan sistem sistem dengan menerapkan metode Economic Order Quantity untuk membantu dalam mengendalikan , memonitoring dan mengevaluasi persediaan serta pengadaan yang ada di Putra Jaya. Siklus manajemen yang digunakan untuk membangun sistem informasi manajemen persediaan di Putra Jaya adalah dengan metode POAC (Planning , Organizing , Actuating , Controlling). Hasil dari pengujian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode economic order quantity di dalam sistem informasi manajemen persediaan yang dibangun sudah dapat mengendalikan persediaan dan pengadaan di Putra Jaya kayu yang diambil biasanya diambil atau dipotong bebas sedangkan apabila kayu dijual maka kayu diambil utuh per unit. Permasalahan yang muncul adalah pada periode 2017-2018 pemesanan dinilai terlalu berlebihan sementara penggunaanya hanya mencapai 79-84% dari keseluruhan kayu yang ada. Hal ini menyebabkan terjadinya kelebihan persediaan yang mengakibatkan penumpukan kayu pada gudang yang pada akhirnya kayu tersebut harus dibuang atau dimusnahkan sehingga tentu saja ini dapat merugikan perusahaan baik secara fisik maupun materil.