Abstract :
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tinjauan pencahayaan di Museum Tsunami Aceh. Seperti telah diketahui, pencahayaan termasuk salah satu elemen dalam desain interior seperti halnya lantai, dinding, ceiling dan furnitur. Pencahayaan memiliki dua sumber utama, pertama adalah pencahayaan alami, yaitu pencahayaan yang berasal dari alam seperti matahari. Kedua adalah pencahyaan buatan, yaitu pencahayaan yang bersumber dari unsur yang sengaja diciptakan, seperti lampu listrik. Sedangkan museum adalah salah satu fasilitas publik yang mencakup edukasi sejarah. Museum Tsunami Aceh merupakan sebuah museum yang dirancang untuk memeringati peristiwa tsunami yang terjadi pada tahun 2004. Di dalam museum ini terdapat beberapa ruang yang menggunakan tata pencahayaan khusus sebagai daya tarik dan memberikan pengunjung pengalaman yang menarik. Salah satu ruang tersebut adalah koridor dengan dinding dari layar yang menampilkan video air yang jatuh dan memakai intensitas pencahayaan yang redup bahkan cukup gelap. Hal ini memiliki tujuan agar pengunjung dapat merasakan simulasi saat peristiwa tsunami di Aceh terjadi. Dengan menggunakan tata pencahayaan yang demikian, pengunjung mendapatkan persepsi terhadap ruang tersebut, dalam hal ini, sistem sensorik pengunjung diarahkan untuk dapat mengalami sensasi dari peristiwa tsunami yang sebenarnya. Dengan kata lain, unsur sensorik dapat memengaruhi persepsi dan emosi manusia.