Abstract :
Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan secara detail tentang kemandirian teks Sesajen dalam Kitab Alam Kabataraan Tarawangsa, di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Fokus peneliti ke dalam sub-sub mikro yaitu maksud pengarang, sosio-kultural, dan respon publik atau pendengar dalam Kitab Alam Kabataraan Tarawangsa. Aspek komunikasi yang digunakan adalah Charley H. Dood mengenai komunikasi antarbudaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian penelitian kualitatif Hermeneutika Paul Ricouer dengan kajian mengenai otonomi teks.Objek penelitian ini dilengkapi oleh data yang diperoleh dari informan penelitian yang berjumlah 4 (empat) orang diperoleh melalui teknik purposive/Snowball. Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, catatan lapangan, dokumentasi, studi pustaka.
Pada bagian mikro pertama maksud pengarang yang mengisyaratkan pada bentuk kalimat-kalimat atau bentuk pujia-pujian yang saling mengisyaratkan kepada segala sesuatu yang hidup di alam semesta ini, isyarat itu diibaratkan sebagai ibu dengan julukan nyai nu geulis (Nyi Pohaci). Kedua, aspek sosio-kultural tentu berkaitan pada waktu kerajaan Galuh dan Pakuan Padjajaran serta kaitan dengan kerajaan Mataram hal itu terjadi sekitar abad 13 ke 14 M. Ketiga, respon masyarakat pun masih utuh yaitu masih mengandung syarat-syarat dari ketiga tahapan yang terjadi yaitu keyakinan sunda yang murni (Ka-Ambuan), pengaruh Hindu, dan pengaruh Islam, keyakinan ini pun dirangkum dalam wacana sesajen. Hingga muncul pada otonomi teks bahwa pengaruh yang masuk pun tidak menjadi hilangnya esensi dari apa yang ada dalam pada wacana sesajen ini.Kesimpulannya bahwa wacana sesajen ini merupakan proses perjalanan kehidupan pada alam semesta itu sendiri, sehingga mau bagaimana pun juga wacana sesjaen akan tetap ada selama kehidupan semesta itu ada. Saran dari peneliti Perlu adanya pengangkatan wacana sesajen ini sebagai bentuk entitas diri orang sunda dan didukunng oleh berbagai elemen-elemen dasar dengan kesadaran diri yaitu mulai dari kaum intelektual, masyarakat setempat, maupun pemerintahan. Pengkajian diranah kebudayaan saat ini perlu diperhatikan, hal itu untuk memberikan pengaruh pada kemajuan akademis agar lebih menghargai apa yang ada dimiliki setiap wilayah masing-masing terkait budaya.